<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936</id><updated>2011-11-27T16:45:06.893-08:00</updated><title type='text'>INFO GIS</title><subtitle type='html'>Informasi terkini Sistem Informasi Geografis Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://infomygis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-6355164595111484948</id><published>2009-02-10T06:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T06:09:25.432-08:00</updated><title type='text'>Karakteristik Sensor dan Wahana Penginderaan Jauh</title><content type='html'>Dalam mempelajari penginderaan jauh sangat terkait sumber energi, interaksi energi di atmosfer, interaksi energi dengan permukaan bumi. Hal lain yang harus dipahami adalah proses perekaman energi itu sendiri. Proses perekaman energi dilakukan dengan menggunakan sensor peka energi-energi tersebut. Seperti tubuh manusia, masing-masing sensor seperti mata dan telinga memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap energi yang diterimanya. Informasi yang diterima oleh sensor ini akan saling mendukung menjadi informasi yang utuh. &lt;br /&gt;Seperti diketahui pada bab terdahulu, energi yang diterima oleh sensor berasal dari energi yang dipancarkan obyek ataupun energi matahari yang dipantulkan obyek. Agar sensor dapat merekam energi-energi tersebut, sensor harus dipasang pada suatu wahana bergerak dengan jarak yang stabil antara obyek dengan wahana. Wahana yang membawa sensor ini dapat berupa wahana yang bergerak didarat melalui cara terestrial, pesawat udara, balon, ataupun satelit.&lt;br /&gt;Sensor terestrial sering digunakan untuk merekam berbagai informasi detil tentang permukaan bumi sebagai pelengkap informasi yang dikumpulkan melalui pesawat udara ataupun satelit. Dalam banyak hal perekaman menggunakan cara ini lebih memberikan pemahaman yang mendalam dan lengkap tentang suatu obyek hasil identifikasi melalui foto udara atau citra satelit. Sensor melalui cara terestrial ini dapat diletakkan pada suatu gedung yang tinggi, crane, atau mobil.&lt;br /&gt;Sensor dengan menggunakan pesawat udara memberikan hasil berupa foto udara. Citra foto udara memberikan informasi citra yang cukup detil. Cakupan dari citra ini lebih luas dari pada metode terestrial. Sensor untuk merekam informasi diletakkan pada tubuh atau sayap pesawat.&lt;br /&gt;Perekaman melalui satelit menghasilkan informasi berupa citra satelit. Satelit diluncurkan dan bergerak pada orbitnya dengan membawa beberapa sensor. Masing-masing sensor memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap gelombang elektromagetik. Hasil dari masing-masing sensor ini selanjutnya sering dikenal dengan istilah saluran (band). Contoh citra satelit Landsat TM dengan 7 saluran (band) yang masing-masing band memiliki kemampuan ”melihat” yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;ORBIT DAN CAKUPAN&lt;br /&gt;Penginderaan jauh pada saat ini banyak menggunakan citra satelit sebagai dasar analisisnya. Citra penginderaan jauh dengan menggunakan satelit memberikan cakupan yang luas atas permukaan bumi. Sejalan dengan kemajuannya citra satelit dengan resolusi tinggi memberikan informasi yang tidak kalah detil dengan foto udara.&lt;br /&gt;Dalam merekam informasi satelit bergerak pada suatu jalur terbangnya. Jalur terbang satelit ini disebut dengan Orbit. Orbit dari satelit disesuaikan dengan kemampuan sensor dan tujuan perekamannya. Orbit satelit memiliki variasi pada ketinggian, orientasi, ataupun rotasi relatifnya terhadap bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geostationary Orbit&lt;br /&gt;Satelit dengan orbit Geostasioner memiliki ketinggian sekitar 36000 kilometer. Kecepatan gerak rotasi sama dengan gerak rotasi bumi. Dengan ketinggian dan kecepatan yang sama dengan rotasi bumi ini, maka satelit tersebut dapat mengamati suatu wilayah secara terus-menerus di setiap waktu. Satelit ini dapat mengamati berbagai perubahan yang terjadi setiap saat untuk wilayah yang diamatinya. Satelit ini seakan-akan selalu berada ditempatnya (geostasioner). Satelit yang menggunakan orbit ini biasanya adalah satelit komunikasi dan satelit cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Near Polar Orbit&lt;br /&gt;Satelit dengan orbit Near Polar mengelilingi bumi dengan arah utara – selatan tegak lurus dengan perputaran bumi. Orbit. Satelit merekam permukaan bumi dari utara ke selatan, dan pada bagian lain merekam dari selatan ke utara. Pada saat satelit berada pada bagian muka bumi yang berhadapan dengan matahari, sensor merekam pantulan energi matahari yang mengenai muka bumi. Sedang pada saat satelit berada pada area bayang-bayang (malam) satelit hanya merekan permukaan yang terkena pantulan sinar matahari. Satelit penginderaan jauh biasanya memiliki orbit ini Orbit ini dapat meliput sebagian besar wilayah muka bumi dalam periode tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Spasial dan Ukuran Piksel.&lt;br /&gt;Ketinggian wahana perekam dengan permukaan bumi yang direkamnya memainkan peranan dalam data hasil penginderaan ini. Jarak yang tinggi dari wahana perekam memungkinkan merekam area permukaan bumi yang lebar. Dengan kata lain, satelit ini memiliki area cakupan (swat) yang luas. Tetapi disisi lain, dengan semakin tingginya wahana perekam ini akan berakibat pada kedetilan obyek yang dapat direkamnya. Obyek individual seperti rumah, pohon, dan berbagai obyek lain sulit dipisahkan satu persatu secara individual. &lt;br /&gt;Wahana perekam seperti pesawat udara yang menghasilkan foto udara memiliki ketinggian terbang yang rendah dibandingkan satelit. Oleh karenanya, data foto udara lebih memungkinkan pemisahan dan identifikasi obyek secara individual.&lt;br /&gt;Kemampuan merekam obyek ini juga dipengaruhi oleh sensor. Sensor sebuah satelit memiliki kemampuan merekam obyek terkecilnya berbeda-beda. Satelit Landsat TM mampu merekam obyek terkecil dilapangan sebesar 30 x 30 meter. Satelit Ikonos merekam dengan obyek terkecilnya 1 x 1 meter. QuickBird dengan ukuran obyek terkecilnya 0,6 x 0,6 meter. Kemampuan sensor dalam merekam obyek terkecil pada tiap pikselnya ini disebut dengan resolusi spasial. Resolusi spasial pada sensor pasif terutama dipengaruhi oleh sudut pandangnya yang disebut dengan Instantaneous Field of View (IFOV). Area dipermukaan bumi yang tercakup dalam sebuah luasan IFOV disebut dengan sel resolusi (Resolution Cell).&lt;br /&gt;Citra satelit terbentuk dari serangkaian matrik elemen gambar yang disebut dengan piksel. Piksel merupakan unit terkecil dari sebuah citra. Piksel sebuah citra pada umumnya berbentuk segi empat dan mewakili suatu area tertentu pada citra. Jika sebuah sensor memiliki resolusi spasial 20 meter dan citra dari sensor tersebut menampilkannya secara penuh, maka masing-masing piksel akan mewakili area seluas 20 x 20 meter. Citra yang menampilkan area dengan cakupan yang luas biasanya memiliki resolusi spasial yang rendah. Hal ini banyak terdapat pada citra-citra dari satelit komersial. Citra dengan resolusi tinggi akan menampilkan obyek secara detil. Satelit militer biasanya didesain untuk hal ini. Citra dari satelit ini mampu menampilkan obyek secara detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Spektral&lt;br /&gt;Resolusi spektral adalah adalah kemampuan sensor untuk membedakan interval sebuah panjang gelombang. Semakin halus resolusi spektral sensor, semakin pendek panjang gelombang dapat dipisahkan menjadi saluran-saluran (band) yang terpisah. Sebagai contoh, citra satelit Landsat TM memiliki 7 saluran. Satelit Landsat TM memiliki sensor dengan kepekaan pada masing-masing rentang interval panjang gelombang hingga sebanyak 7 saluran. Masing-masing sensornya hanya merekam energi panjang gelombang dengan rentang tertentu. &lt;br /&gt;Film hitam putih merekam panjang gelombang dari 0,4 mm hingga 0,7 meter. Film ini menghasilkan citra yang berwarna hitam dan putih saja, karena seluruh panjang gelombang yang terrentang pada interval tersebut terrekam pada satu titik. Seperti telah diketahui, rentangan 0,4 mm hingga 0,7mm terdiri dari banyak warna yang diantaranya adalah warna primer yaitu biru, hijau, dan merah. Perpaduan dari ketiga warna tersebut menghasilkan gradasi warna keabuan (greyscale).&lt;br /&gt;Pada film berwarna, interval panjang gelombang dari 0,4 mm hingga 0,7 mm tersebut dipisahkan menjadi beberapa saluran yaitu saluran biru (0,4 – 0,5mm), saluran hijau (0,5 – 0,6 mm) dan saluran merah (0,6 – 0,7 mm). Film ini akan menghasilkan citra yang berwarna karena masing-masing saluran terrekam oleh pada salurannya masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-6355164595111484948?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/6355164595111484948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/6355164595111484948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2009/02/karakteristik-sensor-dan-wahana.html' title='Karakteristik Sensor dan Wahana Penginderaan Jauh'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-7509470110402084132</id><published>2009-01-13T02:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T02:47:04.936-08:00</updated><title type='text'>E-book Sistem Informasi Geografis</title><content type='html'>Dapatkan segera buku-buku SIstem Informasi Geografis karya Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si.&lt;br /&gt;Mudah, ringkas, menggunakan berbagai teknik yang tepat dalam mengolah data spasial. Dapatkan buku-bukunya di toko buku terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulnjyGOI/AAAAAAAAABY/ln2Yp3oOxtw/s1600-h/bookav.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 173px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulnjyGOI/AAAAAAAAABY/ln2Yp3oOxtw/s320/bookav.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290725254806771938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulm8AW7I/AAAAAAAAABQ/Pa9g3-KRIAY/s1600-h/bookmap.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulm8AW7I/AAAAAAAAABQ/Pa9g3-KRIAY/s320/bookmap.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290725254639934386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxuluMNm5I/AAAAAAAAABI/-lFwto7BixI/s1600-h/booksurf.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 182px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxuluMNm5I/AAAAAAAAABI/-lFwto7BixI/s320/booksurf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290725256586959762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulorQLzI/AAAAAAAAABA/UWbngcJuA6g/s1600-h/bookarcv.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulorQLzI/AAAAAAAAABA/UWbngcJuA6g/s320/bookarcv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290725255106539314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga dapat memesan e-book buku-buku sistem informasi geografis ke alamat ekobudiyanto2@gmail.com. Informasi lengkap dapatkan di http://geografionline.com/dok/rev2/ebook.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-7509470110402084132?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/7509470110402084132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/7509470110402084132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2009/01/e-book-sistem-informasi-geografis.html' title='E-book Sistem Informasi Geografis'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Cg7UkIrGdwk/SWxulnjyGOI/AAAAAAAAABY/ln2Yp3oOxtw/s72-c/bookav.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-9206003852005751074</id><published>2008-11-17T04:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T04:18:48.245-08:00</updated><title type='text'>FORMASI CPNS KAB. SLEMAN</title><content type='html'>Lampiran I&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pengumuman Panitia Pengadaan CPNS&lt;br/&gt;Nomor : 810/001/BKD&lt;br/&gt;Tanggal : 11-11-2008&lt;br/&gt;ALOKASI TAMBAHAN FORMASI PENGADAAN CPNS DARI PELAMAR UMUM&lt;br/&gt;PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN&lt;br/&gt;TAHUN 2008&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;1. Guru jumlah 219 orang, dengan perincian sebagai berikut :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;No. &lt;br/&gt;Nama Jabatan. &lt;br/&gt;Kualifikasi Pendidikan. &lt;br/&gt;Jumlah&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;A. Guru SD&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;1. Guru Kelas. &lt;br/&gt;    S-1 PGSD/D-2 PGSD. &lt;br/&gt;   &lt;strong&gt;175&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Guru Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan&lt;br/&gt;    S-1 Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan&lt;br/&gt;    D-2 Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan&lt;br/&gt;    &lt;strong&gt;5&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;B. Guru SMP&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;1. Guru Teknologi Informatika dan Komputer&lt;br/&gt;    S-1 Kependidikan Komputer / Informatika&lt;br/&gt;    S-1 Non Kependidikan Komputer dan Informatika + Akta IV&lt;br/&gt;    S-1 Non Kependidikan Komputer / MIPA Komputer / Ilmu Komputer / Teknik Komputer + Akta IV&lt;br/&gt;   S-1 Non Kependidikan MIPA Informatika / Teknik Informatika + Akta IV&lt;br/&gt;   &lt;strong&gt;6&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;C. Guru SMA&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;1.Guru Bahasa Jawa&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;    S-1 Kependidikan Bahasa Jawa / Bahasa dan Sastra Jawa&lt;br/&gt;    S-1 Non Kependidikan Sastra Nusantara Jurusan Bahasa Jawa / Sastra Jawa + Akta IV&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;    12&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;D. Guru SMK&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;1. Guru Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan&lt;br/&gt;    S-1 Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan&lt;br/&gt;    &lt;strong&gt;3&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;2. Guru Teknologi Informatika dan Komputer&lt;br/&gt;     S-1 Kependidikan Komputer / Informatika&lt;br/&gt;     S-1 Non Kependidikan Komputer dan Informatika + Akta IV&lt;br/&gt;     S-1 Non Kependidikan Komputer / MIPA Komputer / Ilmu Komputer / Teknik Komputer +     Akta IV&lt;br/&gt;     S-1 Non Kependidikan MIPA Informatika / Teknik Informatika + Akta IV&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;     6&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Guru Kewirausahaan&lt;br/&gt;     S-1 Pendidikan Ekonomi&lt;br/&gt;     S1 Pendidikan Dunia Usaha&lt;br/&gt;     S-1 Ekonomi Manajemen + Akta IV&lt;br/&gt;     &lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Guru Bimbingan Konseling&lt;br/&gt;     S-1 Bimbingan dan Konseling&lt;br/&gt;     S-1 Bimbingan dan Penyuluhan&lt;br/&gt;     S-1 Psikologi+Akta IV&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;      5&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Guru Teknik Geologi Pertambangan&lt;br/&gt;     S-1 Teknik Geologi + Akta IV&lt;br/&gt;     S-1 Teknik Pertambangan + Akta IV&lt;br/&gt;     &lt;strong&gt;3&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6.Guru Matematika&lt;br/&gt;    S-1 Kependidikan MIPA Matematika&lt;br/&gt;    S-1 Non Kependidikan MIPA Matematika + Akta IV&lt;br/&gt;    &lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jumlah 219&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Tenaga Kesehatan jumlah 65 orang, dengan perincian sebagai berikut :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1.Dokter Umum&lt;br/&gt;S-1 Kedokteran Umum + Profesi&lt;br/&gt;12&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2.Dokter Gigi&lt;br/&gt;S-1 Kedokteran Gigi + Profesi&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3.Apoteker&lt;br/&gt;S-1 Farmasi + Profesi Apoteker&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4.Perawat&lt;br/&gt;D-3 Keperawatan&lt;br/&gt;16&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5.Sanitarian&lt;br/&gt;D-3 Kesehatan Lingkungan&lt;br/&gt;5&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6.Rekam Medis&lt;br/&gt;D-3 Rekam Medik&lt;br/&gt;6&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7.Penyuluh Kesehatan Masyarakat&lt;br/&gt;S-1 Kesehatan Masyarakat&lt;br/&gt;7&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8.Nutrisionis&lt;br/&gt;D-3 Ilmu Gizi&lt;br/&gt;3&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9.Asisten Apoteker&lt;br/&gt;D-3 Farmasi Jurusan Obat&lt;br/&gt;4&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Asisten Apoteker&lt;br/&gt;Sekolah Asisten Apoteker/Sekolah Menengah Farmasi&lt;br/&gt;5&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10.&lt;br/&gt;Bidan&lt;br/&gt;D-3 Kebidanan&lt;br/&gt;3&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jumlah 65&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;3. Tenaga Teknis jumlah 47 orang, dengan perincian sebagai berikut :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Auditor&lt;br/&gt;S-1 Akuntansi&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;S-1 Teknik Sipil&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Penyuluh Keluarga Berencana&lt;br/&gt;S-1 Sosiologi&lt;br/&gt;S-1 Sosiatri&lt;br/&gt;5&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Analis Tata Praja&lt;br/&gt;S-1 Pemerintahan&lt;br/&gt;4&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;S-1 Administrasi Negara&lt;br/&gt;3&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4.Perancang Peraturan Perundangan&lt;br/&gt;S-1 Hukum&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5.Pengawas Tenaga Kerja&lt;br/&gt;S-1 Hukum&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6.Pengantar Kerja&lt;br/&gt;S-1 Hukum&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7. Penyuluh Koperasi dan PKM&lt;br/&gt;S-1 Ekonomi Manajemen&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8.Penyiap pengendalian ekspor impor&lt;br/&gt;S-1 Ekonomi Manajemen&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9. Analis Pasar&lt;br/&gt;S-1 Ekonomi Manajemen&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10. Penyusun Program promosi produk pertanian&lt;br/&gt;S-1 Ekonomi Manajemen&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;11. Penata Laporan Keuangan&lt;br/&gt;S-1 Akuntansi&lt;br/&gt;4&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;12. Perencana&lt;br/&gt;S-1 Teknik Sipil&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;13. Penyiap Bahan Kebijakan Pengendalian Pembangunan&lt;br/&gt;S-1 Teknik Sipil&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;14.Penyiap Pengembangan Agribisnis&lt;br/&gt;S-1 Pertanian&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;15. Pengelola Perizinan&lt;br/&gt;D-3 Teknik Sipil&lt;br/&gt;3&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;16. Perancang Sistem Lalu Lintas Jalan&lt;br/&gt;D-4 Transportasi Darat&lt;br/&gt;S-1 Transportasi Darat&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;17. Penyuluh Perindustrian&lt;br/&gt;S-1 Teknologi Industri&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;18. Penyusun Bahan Pembinaan Kelembagaan Sekolah&lt;br/&gt;S-1 Administrasi Pendidikan&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;19. Perencana&lt;br/&gt;S-1 Administrasi Pendidikan&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;20. Arsiparis&lt;br/&gt;D-3 Kearsipan&lt;br/&gt;2&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;21. Pranata Komputer&lt;br/&gt;S-1 Ilmu Komputer, Teknik Komputer, Teknik Informatika&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;D-3 Teknik Komputer&lt;br/&gt;4&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;22.Instruktur&lt;br/&gt;S-1 Pendidikan Teknik Elektro,&lt;br/&gt;S-1 Teknik Elektro Prodi Teknologi Informasi&lt;br/&gt;S-1 Teknik Informatika&lt;br/&gt;1&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jumlah 47&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Sleman, 11 - 11 - 2008&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-9206003852005751074?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/9206003852005751074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/9206003852005751074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/11/formasi-cpns-kab-sleman.html' title='FORMASI CPNS KAB. SLEMAN'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-5718861316792192620</id><published>2008-11-17T03:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T03:42:12.603-08:00</updated><title type='text'>FORMASI CPNS GUNUNGKIDUL</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br/&gt;LAMPIRAN PENGUMUMAN&lt;br/&gt;NOMOR 810 / 1815 / 2008 TANGGAL 11 NOVEMBER 2008&lt;br/&gt;J U M L A H&lt;br/&gt;TENTANG&lt;br/&gt;PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL&lt;br/&gt;PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DARI PELAMAR UMUM&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;KODE JABATAN, NAMA JABATAN,  KUALIFIKASI PENDIDIKAN,GOL RUANG, JUMLAH FORMASI&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;TENAGA GURU (1)&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;01 Guru Pendidikan jasmani S I dan AKTA IV Pendidikan Jasmani III/a 33&lt;br/&gt;02 Guru Bahasa Inggris S I dan AKTA IV Bahasa Inggris III/a 22&lt;br/&gt;03 Guru Bahasa Indonesia S I dan AKTA IV Bahasa Indonesia III/a 20&lt;br/&gt;04 Guru Matematika S I dan AKTA IV Matematika III/a 22&lt;br/&gt;05 Guru Teknologi Informatika dan Komputer S I dan AKTA IV Informatika / Teknik Komputer III/a 22&lt;br/&gt;06 Guru Pendidikan Agama Islam S I dan AKTA IV PAI III/a 20&lt;br/&gt;07 Guru IPA / Fisika S I dan AKTA IV IPA / Fisika III/a 16&lt;br/&gt;08 Guru IPA / Biologi S I dan AKTA IV IPA / Biologi III/a 13&lt;br/&gt;09 Guru IPA / Kimia S I dan AKTA IV Kimia III/a 6&lt;br/&gt;10 Guru IPS / Ekonomi S I dan AKTA IV Ekonomi Akuntansi III/a 15&lt;br/&gt;11 Guru IPS / Sejarah S I dan AKTA IV Sejarah III/a 5&lt;br/&gt;12 Guru IPS / PPKn S I dan AKTA IV PPKn III/a 9&lt;br/&gt;13 Guru Otomotif S I dan AKTA IV Otomotif III/a 4&lt;br/&gt;14 Guru Elektronika S I dan AKTA IV Elektronika III/a 5&lt;br/&gt;15 Guru Tata Boga S I dan AKTA IV Tata Boga III/a 1&lt;br/&gt;16 Guru Perhotelan S I dan AKTA IV Perhotelan III/a 1&lt;br/&gt;17 Guru Tata Busana S I dan AKTA IV Tata Busana III/a 2&lt;br/&gt;18 Guru Teknik Listrik S I dan AKTA IV Teknik Elektro III/a 1&lt;br/&gt;19 Guru Teknik Mesin Perkakas S I dan AKTA IV Teknik Mesin III/a 1&lt;br/&gt;20 Guru Teknika Perikanan Laut S I dan AKTA IV Mesin III/a 1&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;JUMLAH 219&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;TENAGA KESEHATAN (2)&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;21 Penata Gizi D III Gizi II/c 5&lt;br/&gt;22 Analis Kesehatan D III Analis Kesehatan II/c 3&lt;br/&gt;23 Asisten Apoteker D III Farmasi II/c 8&lt;br/&gt;24 Bidan D III Kebidanan II/c 12&lt;br/&gt;25 Dokter Gigi Dokkter Gigi III/b 3&lt;br/&gt;26 Dokter Umum Dokkter Umum III/b 19&lt;br/&gt;27 Perawat D III Keperawatan II/c 24&lt;br/&gt;28 Perekam Medis D III Perekam Medis II/c 1&lt;br/&gt;29 Apoteker Apoteker III/b 1&lt;br/&gt;30 Perawat Anesthesi D III Keperawatan Anesthesi II/c 1&lt;br/&gt;31 Pranata Laboratorium D III Laboratorium II/c 1&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;J U M L A H 78&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;TENAGA TEKNIS (3)&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;32 Instruktur (Elektronika) S I Teknik Elektronika III/a 1&lt;br/&gt;33 Instruktur (Mesin) S I Teknik Mesin III/a 1&lt;br/&gt;34 Pemberi Konsultasi dan Bantuan Hukum S I Ilmu Hukum III/a 1&lt;br/&gt;35 Pengawas Benih Ikan S I Perikanan III/a 1&lt;br/&gt;36 Verifikator Keuangan D III Ekonomi Akuntansi II/c 19&lt;br/&gt;37 Analis Kepegawaian S I Psikologi III/a 1&lt;br/&gt;38 Pengawas dan pengendali reklamasi pertambangan S I Teknik Geodesi III/a 1&lt;br/&gt;39 Pengawas peredaran mutu benih S I Perikanan III/a 1&lt;br/&gt;40 Penata Laporan Keuangan S I Ekonomi Akuntansi III/a 2&lt;br/&gt;41 Pengawas Mutu Hasil Perikanan S I Perikanan III/a 1&lt;br/&gt;42 Analis Potensi Investasi S I Ekonomi Manajemen III/a 1&lt;br/&gt;43 Penyuluh Peternakan S I Peternakan III/a 1&lt;br/&gt;44 Pengawas Teknik Pengairan S I Teknik Sipil III/a 1&lt;br/&gt;45 Perancang Peraturan Perundang-undangan S I Ilmu Hukum III/a 2&lt;br/&gt;46 Inspektur Tambang S I Teknik Pertambangan III/a 1&lt;br/&gt;47 Pranata komputer S I Informatika / Teknik Komputer III/a 2&lt;br/&gt;48 Operator Komputer D III Informatika / Teknik Komputer II/c 3&lt;br/&gt;49 Analis Tata Pemerintahan S I Ilmu Pemerintahan III/a 1&lt;br/&gt;50 Pengendali Dampak Lingkungan S I Teknik Lingkungan III/a 2&lt;br/&gt;51 Pengawas Teknik Jalan dan Jembatan S I Teknik Sipil III/a 2&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;JUMLAH 45&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;J U M L A H J U M L A H S E L U R U H N Y A 342&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;AN. BUPATI GUNUNGKIDUL&lt;br/&gt;SEKRETARIS DAERAH&lt;br/&gt;ttd.&lt;br/&gt;Drs. M. JOKO SASONO&lt;br/&gt;( Pembina Utama Muda, IV/c )&lt;br/&gt;NIP. 010153192&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-5718861316792192620?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/5718861316792192620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/5718861316792192620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/11/formasi-cpns-gunungkidul.html' title='FORMASI CPNS GUNUNGKIDUL'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-3763882311348291031</id><published>2008-11-17T03:23:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T03:33:26.556-08:00</updated><title type='text'>Info CPNS</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PENGUMUMAN&lt;br/&gt;NOMOR 810 / 1815 / 2008&lt;br/&gt;TENTANG&lt;br/&gt;PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL&lt;br/&gt;PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam rangka mengisi lowongan formasi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, sesuai dengan Surat Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor : B/361.P/M.PAN/10/2008 tanggal 31 Oktober 2008 tentang Persetujuan Rincian Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Tahun 2008, Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 30 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2007, dan Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor : 810/1812/KPTS/2008, tanggal 8 November 2008 Tentang Rincian Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dari Pelamar Umum Tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Gunungkidul membuka kesempatan bagi Warga Negara Indonesia yang berminat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;PERSYARATAN PELAMAR&lt;br/&gt;A. PERSYARATAN UMUM&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Warga Negara Republik Indonesia;&lt;br/&gt;2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa&lt;br/&gt;3. Berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun per 1 Desember 2008 atau sampai dengan 40 (empat puluh) tahun bagi yang bekerja pada pelayanan dasar instansi pemerintah atau lembaga berbadan hukum yang menunjang kepentingan nasional secara terus menerus dengan masa kerja paling kurang 5 (lima) tahun pada 17 April 2002 atau paling kurang 11 tahun 9 bulan dihitung sampai dengan 31 Desember 2008 (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002). Dibuktikan dengan melampirkan foto kopi sah surat keputusan/bukti pengangkatan pertama sampai dengan pengangkatan terakhir dari kepala/pimpinan instansi pemerintah/lembaga swasta yang berbadan hukum dan dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL&lt;br/&gt;SEKRETARIAT DAERAH&lt;br/&gt;Alamat : Jl. Brigjen Katamso No. 1 Wonosari Telp. 391006&lt;br/&gt;Kode Pos 55812&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;4. Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan;&lt;br/&gt;5. Tidak berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil/Calon Pegawai Negeri Sipil&lt;br/&gt;maupun anggota TNI/POLRI;&lt;br/&gt;6. Tidak berkedudukan sebagai Anggota atau Pengurus Partai Politik;&lt;br/&gt;7. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan Keputusan&lt;br/&gt;Pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, karena suatu&lt;br/&gt;tindakan pidana kejahatan;&lt;br/&gt;8. Bebas Narkoba;&lt;br/&gt;9. Tidak pernah terlibat dalam suatu kegiatan/gerakan yang menentang Pancasila,&lt;br/&gt;Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah Republik Indonesia;&lt;br/&gt;10. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau&lt;br/&gt;tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil/anggota TNI/POLRI atau&lt;br/&gt;diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta;&lt;br/&gt;11. Berkelakuan baik dibuktikan dengan SKCK dari Kepolisian (Polsek atau Polres);&lt;br/&gt;12. Sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan dokter pemerintah;&lt;br/&gt;13. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;B. JENIS JUMLAH FORMASI YANG DIBUTUHKAN DAN KUALIFIKASI&lt;br/&gt;PENDIDIKAN YANG DIPERSYARATKAN SEBAGAIMANA TERSEBUT DALAM&lt;br/&gt;LAMPIRAN.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;C. PERSYARATAN KHUSUS&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Indeks Prestasi Kumulatif (dalam skala 4) ditentukan sebagai berikut :&lt;br/&gt;a. Tenaga Guru minimal 2,75;&lt;br/&gt;b. Tenaga Kesehatan minimal 2,75;&lt;br/&gt;c. Tenaga Teknis minimal 2,75;&lt;br/&gt;2. Ijazah yang dapat digunakan untuk melamar CPNS adalah ijazah yang&lt;br/&gt;diperoleh dari sekolah atau perguruan tinggi negeri dan/atau ijazah yang&lt;br/&gt;diperoleh dari sekolah atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi&lt;br/&gt;oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang pendidikan nasional atau&lt;br/&gt;pejabat lain yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;br/&gt;berwenang menyelenggarakan pendidikan;&lt;br/&gt;3. Khusus pelamar tenaga guru dari kualifikasi non kependidikan harus&lt;br/&gt;mempunyai Akta IV mengajar bidang studi yang diperoleh dari Perguruan&lt;br/&gt;Tinggi yang telah memperoleh izin penyelenggaran dari Direktorat Jendral&lt;br/&gt;Pendidikan Tinggi;&lt;br/&gt;4. Khusus pelamar yang berusia diatas 35 (tiga puluh lima) tahun sampai dengan&lt;br/&gt;40 (empat puluh) tahun harus memiliki pengalaman kerja yang sesuai dengan&lt;br/&gt;jabatan yang dilamar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;D. PENDAFTARAN&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;1. Surat lamaran ditulis tangan sendiri ditujukan kepada Bupati Gunungkidul, menggunakan tinta hitam pada kertas ukuran folio tanpa materai dan ditandatangani oleh pelamar dengan melampirkan :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;a. Foto kopi ijazah dan transkrip nilai dilegalisir oleh Pejabat yang&lt;br/&gt;berwenang;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;b. Bagi pelamar tenaga guru dari kualifikasi non kependidikan melampirkan&lt;br/&gt;foto kopi Akta IV yang dilegalisir oleh Pejabat yang berwenang;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;c. Surat Keterangan Sehat dari dokter Pemerintah;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;d. Foto kopi Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian&lt;br/&gt;(Polsek atau Polres) yang telah dilegalisir;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;e. Foto kopi Surat Pencari Kerja / AK-1 dari Dinas Tenaga Kerja / instansi berwenang, yang masih berlaku yang dilegalisir;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;f. Pas foto terbaru hitam putih ukuran 3 X 4 sebanyak 3 (tiga) lembar, dua lembar ditempel pada formulir pendaftaran, satu lembar dimasukkan plastik kecil transparan dengan ditulis nama pada bagian belakang foto;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;g. Bagi pelamar berusia diatas 35 (tiga puluh lima) tahun sampai dengan 40 (empat puluh) tahun per 1 Desember 2008 melampirkan foto kopi Surat Keputusan / bukti pengangkatan pertama sampai dengan pengangkatan terakhir dari kepala/pimpinan instansi pemerintah atau lembaga swasta yang berbadan hukum dan telah dilegalisir pejabat yang berwenang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;h. Mengisi formulir pendaftaran yang dapat di-download di situs resmi&lt;br/&gt;Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. ( www.gunungkidulkab.go.id )&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;2. Surat lamaran yang telah dilengkapi dengan persyaratan, dibuat rangkap 1 (satu) dimasukan dalam stofmap dengan warna sebagai berikut :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;- Tenaga Guru : warna Merah&lt;br/&gt;- Tenaga Kesehatan : warna Hijau&lt;br/&gt;- Tenaga Teknis : warna Kuning&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada stofmap ditulis :&lt;br/&gt;a. Nama Pelamar : ...........&lt;br/&gt;b. Jabatan yang dilamar : ...........&lt;br/&gt;c. Kualifikasi Pendidikan : ...........&lt;br/&gt;d. No. Telepon /HP : ...........&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;3. Waktu dan tempat pendaftaran&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Tempat pendaftaran di Balai Latihan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi,&lt;br/&gt;Siraman, Wonosari, mulai tanggal 17 November 2008 s.d. 29 November 2008&lt;br/&gt;dengan waktu penerimaan berkas sebagai berikut :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;- Senin s.d. Kamis : Pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB&lt;br/&gt;- Jumat : Pukul 08.00 s.d. 10.00 WIB&lt;br/&gt;- Sabtu : Pukul 08.00 s.d. 11.00 WIB&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;dan penyelesaian pendaftaran sampai dengan jam kerja pada hari itu juga.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;4. Setiap pelamar hanya boleh mengirimkan 1 (satu) berkas lamaran dengan tujuan&lt;br/&gt;peminatan yang tidak dapat diubah lagi.&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;E. PELAKSANAAN UJIAN TULIS&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;1. WAKTU DAN TEMPAT&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hari : Minggu&lt;br/&gt;Tanggal : 7 Desember 2008&lt;br/&gt;J a m : 08.00 WIB s.d selesai&lt;br/&gt;Tempat : Tempat ujian akan diumumkan pada tanggal 5-6 Desember 2008 di&lt;br/&gt;tempat pendaftaran dan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten&lt;br/&gt;Gunungkidul serta dapat diakses di situs resmi Pemerintah&lt;br/&gt;Kabupaten Gunungkidul. ( www.gunungkidulkab.go.id )&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. MATERI UJIAN&lt;br/&gt;a. Tes Bakat Skolastik;&lt;br/&gt;b. Tes Pengetahuan Umum, meliputi bidang : Ideologi, Politik, Ekonomi,&lt;br/&gt;Sosial, Budaya, Hankam, dan Hukum&lt;br/&gt;c. Tes Substansi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. LAIN-LAIN&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;a. Seluruh proses pengadaan CPNS mulai proses pendaftaran, pelaksanaan seleksi sampai dengan penentuan kelulusan TIDAK DIPUNGUT BIAYA dan bebas dari praktek korupsi, kolusi, nepotisme serta pemalsuan dokumen CPNS.&lt;br/&gt;b. Bagi pelamar yang terbukti melakukan perjokian dan atau memberikan keterangan PALSU dinyatakan tidak lulus/gugur dan akan dikenakan sanksi hukum sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. &lt;br/&gt;c. Seluruh dokumen yang telah diserahkan, menjadi milik tim dan tidak dapat diminta kembali.&lt;br/&gt;d. Tim Penerimaan CPNS Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2008 tidak melayani surat-menyurat.&lt;/div&gt;e. Keputusan Tim Penerimaan CPNS Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2008 tidak dapat diganggu gugat.&lt;br/&gt;f. Pengumuman Pendaftaran Penerimaan CPNS Pemerintah Kabupaten&lt;br/&gt;Gunungkidul Tahun 2008 ini dapat juga diakses di situs resmi Pemerintah&lt;br/&gt;Kabupaten Gunungkidul. ( www.gunungkidulkab.go.id )&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Wonosari, 11 November 2008&lt;br/&gt;AN. BUPATI GUNUNGKIDUL&lt;br/&gt;SEKRETARIS DAERAH&lt;br/&gt;Ttd.&lt;br/&gt;Drs. M. JOKO SASONO&lt;br/&gt;( Pembina Utama Muda, IV/c )&lt;br/&gt;NIP. 010153192&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-3763882311348291031?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3763882311348291031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3763882311348291031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/11/info-cpns.html' title='Info CPNS'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-122751248097851717</id><published>2008-08-05T17:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T17:56:03.454-07:00</updated><title type='text'>Peta Geologi Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Anda memerlukan berbagai peta geologi indonesia ? Silakan anda menuju &lt;a href="http://gis.plg.esdm.go.id/"&gt;Pusat Lingkungan Geolog&lt;/a&gt;i. Situs ini dikelola oleh pemerintah RI melalui Departemen ESDM. Anda dapat melihat peta Peta Dunia, Peta Indek RBI skala 250.000, Peta Indek RBI skala 50.000, Peta Indek RBI skala 25.000, Peta Index Hidrogeologi, Peta Hidrogeologi Indonesia, Peta CAT Indonesia, Peta Index Geologi Lingkungan, dan Peta Kualitas Air Tanah. Disamping itu anda juga dapat memperoleh beberapa peta tematik, namun dalam hal ini anda harus terdaftar pada situs tersebut. Cukup membantu !!! Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-122751248097851717?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/122751248097851717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/122751248097851717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/08/peta-geologi-indonesia.html' title='Peta Geologi Indonesia'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-5461206288268449504</id><published>2008-08-03T17:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T17:24:52.748-07:00</updated><title type='text'>DATUM GEODETIK dan SISTEM PROYEKSI NASIONAL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemahaman tentang dasar pembuatan peta adalah sesuatu yang sangat penting. Peta bukan hanya sekedar gambar hiasan tanpa arti. Peta memiliki makna yang sangat luas. Peta berkaitan dengan banyak hal yang menyangkut hajat hidup bangsa, bahkan kedaulatan bangsa tersebut. Lihatlah beberapa kasus hilangnya sebagian wilayah negara Indonesia berkaitan dengan sengketa perbatasannya dengan negara tetangga. Kasus lain yang lebih mengenaskan adalah penahanan nelayan Indonesia dan perahu mereka ditengelamkan karena dianggap telah memasuki wilayah teritori negara lain. (lihat lebih lengkap di &lt;a href="http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=166973&amp;amp;actmenu=45"&gt;http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=166973&amp;amp;actmenu=45&lt;/a&gt;). Perselisihan perselisihan tersebut muncul karena adanya perbedaan penafsiran tentang peta dari masing-masing penggunanya. Untuk itu berikut adalah sedikit ulasan mengenai hal-hal berkaitan dengan unsur yang mendasari pembuatan peta. Penulis akan membagi dalam beberapa sesi posting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATUM GEODETIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datum geodetik adalah parameter yang digunakan untuk mendefinisikan bentuk dan ukuran elipsoid referensi. Parameter-parameter ini selanjutnya digunakan untuk pendefinisian koordinat, serta kedudukan dan orientasinya dalam ruang di muka bumi. Setiap negara menggunakan suatu sistem datum geodetiknya masing-masing yang ditetapkan menjadi dasar acuan pemetaan nasionalnya. Indonesia menggunakan sistem DGN 1995 (kepanjangan dari Datum Geodetik Nasional 1995). Datum geodetik ini memiliki prinsip yang sama dengan sistem datum WGS 1984&lt;br /&gt;DGN (Datum Geodesi Nasional) 1995 &lt;br /&gt;DGN (Datum Geodesi Nasional) 1995 adalah datum geodetik Nasional (Indonesia) yang secara resmi berlaku saat ini di Indonesia, yang pada prinsipnya sama dengan datum WGS 1984. Sistem datum WGS 1984 ini juga merupakan sistem datum yang digunakan dalam GPS navigasi saat ini. Datum WGS 1984 dikendalikan National Imagery and Mapping (NIMA) Amerika Serikat. Informasi lebih banyak silakan ke &lt;a href="http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=13"&gt;http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=13&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;SISTIM PROYEKSI &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;Proyeksi adalah suatu cara dalam usaha menyajikan dari suatu bentuk yang mempunyai dimensi tertentu ke dimensi lainnya. Dalam hal ini adalah dari bentuk matematis bumi (Elipsoid atau Elip 3 dimensi) ke bidang 2 dimensi berupa bidang datar (kertas). PROYEKSI dapat dibagi menurut criteria :&lt;br /&gt;SIFAT: &lt;br /&gt;1. KONFORM (bentuk sama) &lt;br /&gt;2. EQUIVALENT (luas sama) &lt;br /&gt;3. EQUIDISTANT (jarak sama)&lt;br /&gt;BIDANG : &lt;br /&gt;1. AZIMUTHAL (bidang datar) &lt;br /&gt;2. KERUCUT (bidang kerucut) &lt;br /&gt;3. SILINDER (bidang silinder)&lt;br /&gt;KEDUDUKAN BIDANG PROYEKSI : &lt;br /&gt;1. NORMAL ( tegak ) &lt;br /&gt;2. TRANSVERSAL ( melintang ) &lt;br /&gt;3. OBLIQUE ( miring )&lt;br /&gt;4. &lt;br /&gt;SISTEM PROYEKSI UNIVERSAL TRANSVERSE MERCATOR (UTM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Proyeksi UTM ( Universal Tranvers Mercator ) ini telah dibakukan oleh BAKOSURTANAL sebagai sistim Proyeksi Pemetaan Nasional. Pemakaian sistem proyeksi ini didasari oleh hal-hal berikut :&lt;br /&gt;i. Kondisi geografi negara Indonesia membujur disekitar Garis Katulistiwa atau garis lingkar Equator dari Barat sampai ke Timur yang relatip seimbang. &lt;br /&gt;ii. Untuk kondisi seperti ini, sistim proyeksi Tranvers Mercator/Silinder Melintang Mercator adalah paling ideal (memberikan hasil dengan distorsi minimal). &lt;br /&gt;iii. Dengan pertimbangan kepentingan teknis maka dipilih sistim proyeksi Universal Transverse Mercator yang memberikan batasan luasan bidang 6º antara 2 garis bujur di elipsoide yang dinyatakan sebagai Zone.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas silakan lihat &lt;a href="http://www.blogger.com/www.anjar.web.ugm.ac.id/bahankuliah/%20pengenalan_sist_proyeksi.doc"&gt;www.anjar.web.ugm.ac.id/bahankuliah/ pengenalan_sist_proyeksi.doc&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;PERATURAN PEMERINTAH BERKAITAN DENGAN SISTEM PROYEKSI&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemerintah telah menegaskan sistem proyeksi yang digunakan dalam pembuatan peta di Indonesia. Peraturan ini meyangkut tentang apa dasar-dasar pemetaan, siapa yang berhak menggunakan dan lain-lain. Untuk lebih jelas tentang ini, silakan pembaca membuka posting dalam blog ini yang berjudul PP 10/2000 Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-5461206288268449504?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/5461206288268449504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/5461206288268449504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/08/datum-geodetik-dan-sisitem-proyeksi.html' title='DATUM GEODETIK dan SISTEM PROYEKSI NASIONAL'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-1224668551550266469</id><published>2008-08-03T16:49:00.000-07:00</published><updated>2008-08-03T16:57:25.574-07:00</updated><title type='text'>PP 10/2000 Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;NOMOR 10 TAHUN 2000 &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;TENTANG &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;PENATAAN RUANG WILAYAH &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menimbang : &lt;br /&gt;bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat : &lt;br /&gt;1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; &lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas maupun di bawah per-mukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu. &lt;br /&gt;2. Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta dengan jarak tersebut di muka bumi. &lt;br /&gt;3. Ketelitian peta adalah ketepatan, kerincian dan kelengkapan data dan atau informasi georeferensi dan tematik. &lt;br /&gt;4. Peta dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di permukaan bumi, digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala, penomoran, proyeksi dan georeferensi tertentu. &lt;br /&gt;5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya, yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek administratif dan atau aspek fungsional. &lt;br /&gt;6. Peta wilayah adalah peta yang berdasarkan pada aspek administratif yang diturunkan dari peta dasar. &lt;br /&gt;7. Peta tematik wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan data dan informasi tematik. &lt;br /&gt;8. Peta rencana tata ruang wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan hasil perencanaan tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;9. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pemetaan. &lt;br /&gt;10. Instansi yang mengadakan peta tematik wilayah adalah instansi baik di tingkat pusat maupun daerah, yang tugas dan fungsinya mengadakan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II &lt;br /&gt;RUANG LINGKUP DAN TUJUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah ini mengatur tingkat ketelitian berbagai jenis peta yang digunakan untuk penyusunan peta rencana tata ruang wilayah dan tingkat ketelitian peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pengaturan tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah, dimaksudkan untuk mewujudkan kesatuan sistem penya-jian data dan informasi penataan ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III &lt;br /&gt;JENIS PETA DAN TINGKAT KETELITIAN &lt;br /&gt;PETA RENCANA TATA RUANG WILAYAH &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Pertama &lt;br /&gt;Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Jenis peta, meliputi: &lt;br /&gt;a. peta dasar; &lt;br /&gt;b. peta wilayah; dan &lt;br /&gt;c. peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Jenis peta harus memiliki karakteristik ketelitian peta yang pasti. &lt;br /&gt;(3) Karakteristik ketelitian peta menjadi dasar ketelitian bagi pembuatan peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah ditentukan berdasarkan pada skala minimal yang diperlukan untuk merekonstruksi informasi pada peta di muka bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Jenis Peta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, menggunakan sistem referensi menurut ketentuan Datum Geodesi Nasional 1995, sistem proyeksi Transverse Mercator (TM) dengan sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM) dan sistem penomoran lembar peta secara nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Peta dasar digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta wilayah digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta tematik wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta tematik wilayah digambarkan berdasarkan pada kriteria, klasifikasi dan spesifikasi unsur-unsur tematik yang ditetapkan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;(2) Peta rencana tata ruang wilayah digambarkan dengan unsur-unsur peta wilayah dan unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Tingkat Ketelitian Peta Rencana &lt;br /&gt;Tata Ruang Wilayah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf 1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta rencana tata ruang wilayah meliputi tingkat ketelitian peta untuk: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. peta rencana tata ruang wilayah nasional; &lt;br /&gt;b. peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi; &lt;br /&gt;c. peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten; dan &lt;br /&gt;d. peta rencana tata ruang wilayah daerah kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tingkat ketelitian peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diwujudkan dengan tingkatan skala peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf 2 &lt;br /&gt;Tingkat Ketelitian Peta Rencana &lt;br /&gt;Tata Ruang Wilayah Nasional &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta rencana tata ruang wilayah nasional menggunakan peta wilayah negara Indonesia dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta wilayah negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:1.000.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Peta wilayah negara Indonesia dengan skala 1:1.000.000 meliputi unsur-unsur: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, &lt;br /&gt;danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar &lt;br /&gt;minimal 125 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman, berupa kota; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan &lt;br /&gt;kereta api, jalan lain, bandar udara, pelabuhan; &lt;br /&gt;e. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota; dan &lt;br /&gt;f. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta rencana tata ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. &lt;br /&gt;(2) Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan tertentu, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VII Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf 3 &lt;br /&gt;Tingkat Ketelitian Peta Rencana &lt;br /&gt;Tata Ruang Wilayah Daerah Propinsi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi menggunakan peta wilayah daerah propinsi dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta wilayah daerah propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1: 250.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah propinsi dengan skala 1:250.000 meliputi unsur-unsur: &lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, &lt;br /&gt;danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar &lt;br /&gt;minimal 35 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan &lt;br /&gt;kereta api, jalan lain, bandar udara, pelabuhan; &lt;br /&gt;e. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota; &lt;br /&gt;f. garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 125 meter; &lt;br /&gt;g. titik tinggi; dan &lt;br /&gt;h. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran II Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi. &lt;br /&gt;(2) Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan tertentu, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VIII Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal wilayah daerah propinsi yang bentangan wilayahnya sempit dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:100.000 atau skala 1:50.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan Pasal 24. &lt;br /&gt;(3) Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:50.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dan Pasal 26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggu-nakan skala 1:50.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf 4 &lt;br /&gt;Tingkat Ketelitian Peta Rencana &lt;br /&gt;Tata Ruang Wilayah Daerah Kabupaten &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten menggunakan peta wilayah daerah kabupaten dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta wilayah daerah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:100.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah kabupaten dengan skala 1:100.000 unsur-unsurnya meliputi: &lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 15 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lain, jalan kereta api, bandar udara dan pelabuhan; bandar udara digambarkan sesuai dengan skala; &lt;br /&gt;e. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas wilayah daerah kota, batas kecamatan; &lt;br /&gt;f. garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 50 meter; &lt;br /&gt;g. titik tinggi; dan &lt;br /&gt;h. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran III Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta wilayah daerah kabupaten. &lt;br /&gt;(2) Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran IX Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal wilayah daerah kabupaten yang bentangan wilayahnya sempit dapat menggunakan peta wilayah dengan skala 1:50.000 atau skala 1:25.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:50.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31. &lt;br /&gt;(3) Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta yang menggunakan skala 1:50.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf 5 &lt;br /&gt;Tingkat Ketelitian Peta Rencana &lt;br /&gt;Tata Ruang Wilayah Daerah Kota &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota menggunakan peta wilayah daerah kota dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:50.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50.000, unsur-unsurnya meliputi: &lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 7 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lain, jalan kereta api, jalan setapak, bandar udara dan pelabuhan; bandar udara digambarkan sesuai dengan skala; &lt;br /&gt;e. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota, batas kecamatan; &lt;br /&gt;f. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai keli-patan 25 meter; &lt;br /&gt;g. titik tinggi; dan &lt;br /&gt;h. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50.000, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran IV Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota digambarkan dalam peta wilayah daerah kota. &lt;br /&gt;(2) Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran X Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam hal wilayah daerah kota yang bentangan wilayahnya sempit, dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:25.000 atau skala 1:10.000. &lt;br /&gt;(2) Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:25.000 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), unsur-unsurnya meliputi: &lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, terusan, saluran air, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 5 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lain, jalan setapak, jalan kereta api, bandar udara dan pelabuhan; &lt;br /&gt;f. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota, batas kecamatan, batas kelurahan; &lt;br /&gt;g. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 12,5 meter; &lt;br /&gt;h. titik tinggi; dan &lt;br /&gt;i. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran V Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:25.000, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XI Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:10.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1), unsur-unsurnya meliputi: &lt;br /&gt;a. garis pantai; &lt;br /&gt;b. hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, terusan, saluran &lt;br /&gt;air, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 1,5 meter; &lt;br /&gt;c. permukiman; &lt;br /&gt;d. jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lain, jalan &lt;br /&gt;setapak, jalan kereta api, bandar udara, pelabuhan; &lt;br /&gt;e. batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas &lt;br /&gt;kota, batas kecamatan, batas desa; &lt;br /&gt;f. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 5 meter; &lt;br /&gt;g. titik tinggi; dan &lt;br /&gt;h. nama-nama unsur geografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 39 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VI Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 40 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:10.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XII Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB IV &lt;br /&gt;PENGADAAN DAN PEMBINAAN TEKNIS&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 42 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pengadaan peta wilayah negara Indonesia, peta wilayah daerah propinsi, peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;(2) Pengadaan peta wilayah daerah propinsi, peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota dapat diselenggarakan oleh instansi terkait di daerah dengan mengikuti ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;(3) Pengadaan peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;(2) Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 44 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan teknis dilakukan melalui pengembangan keterpaduan sistem jaringan dalam pemetaan untuk penataan ruang wilayah dengan menggunakan sistem informasi geografis nasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB V &lt;br /&gt;PERAN SERTA MASYARAKAT&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Masyarakat berhak mengetahui peta wilayah melalui katalog peta wilayah yang disusun oleh instansi yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;(2) Masyarakat berhak mengetahui peta tematik wilayah melalui katalog peta tematik wilayah yang disusun oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 46 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dapat berperan serta memberikan data dan informasi dalam pembuatan peta dasar, peta wilayah dan peta tematik wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB VI &lt;br /&gt;KETENTUAN LAIN&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol dan atau notasi unsur-unsur peta rencana tata ruang yang belum diatur dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini, diatur lebih lanjut dengan keputusan instansi yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan masukan dari instansi terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 48 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penyusunan peta rencana tata ruang kawasan, unsur-unsurnya menggunakan simbol dan atau notasi sesuai dengan tingkatan ketelitian dan skala peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB VII &lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 49 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka semua peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah yang telah ada harus disesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;(2) Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diselesaikan selambat-lambatnya dalam tiga tahun setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB VIII &lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 50 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta &lt;br /&gt;pada tanggal 21 Pebruari 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABDURRAHMAN WAHID &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta &lt;br /&gt;pada tanggal 21 Pebruari 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pj. SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BONDAN GUNAWAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-1224668551550266469?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/1224668551550266469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/1224668551550266469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/08/peraturan-pemerintah-republik-indonesia.html' title='PP 10/2000 Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-4867654027818810054</id><published>2008-07-28T19:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T19:58:28.679-07:00</updated><title type='text'>SIG untuk pemantauan daya serap sekolah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Penerapan &lt;strong&gt;Sistem Informasi Geografis&lt;/strong&gt; dalam bidang pendidikan telah dilakukan oleh Depdiknas. Sistem ini digunakan untuk melihat persebaran daya serap sekolah di tiap wilayah di Indonesia. Sistem dapat digunakan secara interaktif dengan cara klik pada propinsi yang akan dilihat. Silakan anda menuju &lt;a href="http://www.sig.depdiknas.go.id/"&gt;http://www.sig.depdiknas.go.id&lt;/a&gt; untuk melihat SIG Depdiknas tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-4867654027818810054?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/4867654027818810054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/4867654027818810054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/sig-untuk-pemantauan-daya-serap-sekolah.html' title='SIG untuk pemantauan daya serap sekolah'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-7605972969043464093</id><published>2008-07-27T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T22:13:26.691-07:00</updated><title type='text'>PEMROGRAMMAN GIS BERBASIS AVENUE ARCVIEW GIS 2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tata Tulis Avenue&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Hal-Hal Umum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal umum yang perlu dipahami dalam penulisan bahasa avenue adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Avenue adalah bahasa script berorientasi obyek. Semua proses didasarkan pada obyek.&lt;br /&gt;2. bahasa avenue tidak sensitive terhadap system penulisan huruf besar dan kecil pada variable.&lt;br /&gt;3. avenue memiliki elemen-elemen berikut :&lt;br /&gt;- Nilai-nilai Boolean&lt;br /&gt;- Nilai-nilai angka&lt;br /&gt;- String&lt;br /&gt;- Nilai enumerasi&lt;br /&gt;- Daftar obyek&lt;br /&gt;- Aplikasi arcview&lt;br /&gt;- Obyek kosong (nil)&lt;br /&gt;- Variabel lokal&lt;br /&gt;- Variabel global&lt;br /&gt;- Sistem komentar&lt;br /&gt;- Varian kontruksi pengontrol arus program &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;B. Penulisan Request&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Avenue merupakan bahasa berbasis obyek sehingga semua nilai didasarkan pada keberadaan obyek induknya. Sebuah sifat, nilai, dan proses harus terlebih dahulu dinyatakan kepada obyek apa hal tersebut ditujukan. Pernyataan untuk mengarahkan nilai, sifat, dan proses tersebut dilakukan melalui sebuah request yang dihubungkan dengan obyek melalui simbol titik (.), simbol matematis atau simbol logikal. Penulisan request ada tiga bentuk yaitu postfix, infix, dan prefix.&lt;br /&gt;- Postfix&lt;br /&gt;Bentuk penulisan postfix adalah : object.request&lt;br /&gt;contoh :&lt;br /&gt;- MyView.CopyThemes&lt;br /&gt;- View.Print&lt;br /&gt;- Infix&lt;br /&gt;Bentuk penulisan Infix adalah : object request object&lt;br /&gt;contoh :&lt;br /&gt;- a + b&lt;br /&gt;- var1 * var2&lt;br /&gt;- 5 + a&lt;br /&gt;- Prefix&lt;br /&gt;Bentuk penulisan prefix adalah sebagai berikut: Not Kondisi&lt;br /&gt;contoh :&lt;br /&gt;- Not true&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Variabel&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Variabel adalah obyek yang memiliki nilai berubah-ubah. Variabel sangat bermanfaat dalam sebuah pemrogramman, bahkan hampir setiap tubuh program dapat dipastikan akan menggunakan vaiabel tersebut. Pemanfaatan variabel dapat ditetapkan sebagai variabel lokal ataupun variabel global. Variabel lokal adalah variabel yang nilainya hanya dapat digunakan pada sebuah sub program saja dimana variabel tersebut berada. Variabel global adalah variabel yang nilainya dapat digunakan di semua bagian program.&lt;br /&gt;Berikut adalah aturan penulisan variabel :&lt;br /&gt;1. Nama Variabel diawali dengan huruf, kecuali variabel global yang harus diawali dengan garis bawah ( _ )&lt;br /&gt;2. Nama variabel tidak boleh diawali dengan karakter khusus.&lt;br /&gt;3. Sebaiknya nama variabel sesuai dengan fungsi variabel tersebut.&lt;br /&gt;4. Penggunaan nama variabel harus konsisten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka1 = 5&lt;br /&gt;Angka2 = 8&lt;br /&gt;Hasil = Angka1 + Angka2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Pengontrol Alur Program&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Avenue memiliki beberapa bentuk pengontrol alur program. Alur program dikendalikan pada sebuah sistem logika dengan menggunakan proses&lt;br /&gt;1. If...Then...Else&lt;br /&gt;2. For Each&lt;br /&gt;3. While&lt;br /&gt;4. Exit&lt;br /&gt;5. Return&lt;br /&gt;6. Break&lt;br /&gt;7. Continue&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;D.1. If ... Then ... Else&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bentuk 1&lt;br /&gt;if ( expression1 ) then&lt;br /&gt;request block1&lt;br /&gt;........&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;Bentuk ini dapat digambarkan dengan flowchart berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kondisi benar maka perintah kesatu akan dilaksanakan, namun jika kondisi salah maka tidak melaksanakan sesuatu apapun atau berhenti &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk 2&lt;br /&gt;if ( expression1 ) then&lt;br /&gt;request block1&lt;br /&gt;else&lt;br /&gt;request block2&lt;br /&gt;..........&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kondisi benar maka perintah kesatu akan dilaksanakan, namun jika kondisi salah makaakan melaksanakan perintah kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk 3&lt;br /&gt;if ( expression1 ) then&lt;br /&gt;request block1&lt;br /&gt;elseif ( expression2 ) then&lt;br /&gt;request block2&lt;br /&gt;[else]&lt;br /&gt;request block3&lt;br /&gt;.........&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah kesatu dilaksanakan jika kondisi pertama benar, namun jika salah kondisi kedua akan dijalankan. Jika kondisi kebua bernilai benar perintah kedua akan dijalankan, tetapi jika salah maka perintah terakhir atau ketiga yang akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;D.2. For Each .....in ....&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;for each variable in collection [ by increment ]&lt;br /&gt;request block&lt;br /&gt;........&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;Bentuk ini akan menjalankan perintah selama nilai variabel masih ada pada sebuah kumpulan atau daftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh&lt;br /&gt;1. for each i in 1..100&lt;br /&gt;MsgBox.Info( i.AsString, "")&lt;br /&gt;End&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. for each n in 1..10 by 2&lt;br /&gt;msgbox.info(n.asString,"")&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. theView = av.GetActiveDoc&lt;br /&gt;for each t in theView.GetActiveThemes&lt;br /&gt;t.EditTable&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;D.3. While .... End&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;while ( expression)&lt;br /&gt;request block&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While ... End akan melaksanakan perintah secara terus-menerus selama nilai pada ekspresi atau kondisi yang diuji bernilai benar.&lt;br /&gt;&lt;EM&gt;&lt;br /&gt;Contoh&lt;br /&gt;While ( a &lt; a =" a"&gt;D.4. Exit&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perintah EXIT akan menghentikan seluruh jalannya program. Perintah ini akan mengeluarkan program dari sistem avenue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;D.4. Return&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Perintah RETURN akan mengembalikan alur program atau obyek ke program pemanggil atau induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;D.5. Break&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perintah BREAK akan menghentikan proses alur program hingga akhir pemberhentian terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;D.6. Continue&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perintah CONTINUE akan melanjutkan alur program dan melewatkan kondisi dalam kalang dimana program sedang dijalankan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-7605972969043464093?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/7605972969043464093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/7605972969043464093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/pemrogramman-gis-berbasis-avenue_27.html' title='PEMROGRAMMAN GIS BERBASIS AVENUE ARCVIEW GIS 2'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-4811953790026691165</id><published>2008-07-27T21:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T21:50:15.790-07:00</updated><title type='text'>PEMROGRAMMAN GIS BERBASIS AVENUE ARCVIEW GIS 1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Avenue sebagai pendukung ArcView GIS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kemampuan arcview GIS pada berbagai serinya tidaklah diragukan lagi. ArcView GIS adalah software yang dikeluarkan oleh ESRI (Environmental Systems Research Institute). Perangkat lunak ini memberikan fasilitas teknis yang berkaitan dengan pengelolaan daata spasial. Kemampuan grafis yang baik dan kemampuan teknis dalam pengolahan data spasial tersebit memberikan kekuatan secara nyata pada arcview untuk melakukan analisis spasial. Kekuatan analisis inilah yang pada akhirnya menjadikan Arc View banyak diterapkan dalam berbagai pekerjaan seperti analisis pemasaran, perencanaan wilayah dan tata ruang, system informasi persil, pengendalian dampak lingkungan bahkan militer.&lt;br /&gt;Mengapa Arcview dapat memiliki keluwesan yang sedemikian hebat? Hal ini dikarenakan oleh adanya dukungan dari script avenue. Melalui avenue ini dapat dibentuk suatu "kemampuan baru" pada arcview. Tentu saja hal ini membuat Arcview menjadi sangat luwes untuk diterapkan pada berbagai permasalahan spasial. Avenue dapat digunakan untuk "merombak" wajah arcview sesuai dengan kebutuhan penggunanya.&lt;br /&gt;Avenue adalah sebuah scrip atau bahasa pemrogramman berorientasi obyek (OOP/Object Oriented Programming). Dengan Avenue ini dapat dibentuk sebuah interface baru pada arc View, otomasi pekerjaan-pekerjaan yang bersifat berulang (repetitif), ataupun membuat sebuah alur analisis spasial khusus yang belum terdapat pada arcview tersebut.&lt;br /&gt;Avenue dilengkapi dengan kumpulan kelas-kelas yang ditunjukkan pada obyek dalam arcview. Program menjalankan berbagai tugas dengan menggunakan suatu obyek ataupun memanipulasi obyek tersebut.Sebagai bahasa pemrogramman berorientasi obyek avenue memiliki pola-pola yang hampir sama dengan bahasa-bahasa berorientasi obyek lain seperti visual basic, visual fox pro, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Konsep dasar Object pada avenue&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;B.1. Object&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Segala sesuatu yang dilakukan pada Arc View untuk melaksanakan berbagai tugas selalu melalui sebuah obyek (Object). Pada saat membuka sebuah view, pekerjaan terhubung dengan obyek theme. Ketika melakukan penambahan theme dalam view tersebut, pekerjaan terhubung dengan obyek theme.&lt;br /&gt;Obyek adalah segala sesuatu yang memiliki unsur berupa serangkaian sifat atau properti tertentu, serangkaian dari segala sesuatu yang dikerjakannya, serta statusnya pada saat ini.&lt;br /&gt;Perhatikanlah sebuah obyek yang ada di sekitar kita, misalnya, sepeda motor. Jika diteliti lebih jauh obyek yang berupa sepeda motor tersebut memiliki unsur-unsur obyek seperti di atas.Unsur obyek pada sepeda motor tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Properti                                             : tahun pembuatan, model, warna dan lain-lain&lt;br /&gt;- Sesuatu yang dapat dilakukannya   : bergerak maju, belok kiri, belok kanan, berhenti&lt;br /&gt;- Statusnya saat ini                             : kearah timur, dengan kecepatan 10 km/jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dalam konsep ini obyek dapat ditelaah dengan berdasar pada tiga hal yaitu sifat atau propertinya, sesuatu yang dapat dilakukannya, dan statusnya pada saat ini.&lt;br /&gt;Bentuk lain dalam memahami obyek adalah dengan menghubungkannya dengan obyek lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;- Sebuah obyek mungkin memiliki unsur-unsur yang terdiri dari obyek-obyek lain sebagai pembentuk obyek tersebut.&lt;br /&gt;Misal : Sepeda motor tersusun dari adanya roda, jok, tangki, mesin, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebuah obyek mungkin memanfaatkan obyek lain untuk bergerak.&lt;br /&gt;Misal : sepeda motor akan menggunakan bensin untuk berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebuah obyek mungkin berasosiasi dengan obyek lain.&lt;br /&gt;Misal : Pengendara memperhatikan jalan yang dilaluinya, mahasiswa mendengarkan kuliah dosennya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pola pemahaman ini, sebuah obyek ditelaah dengan cara membandingkannya dengan obyek lain yang ada disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.2. Kelas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kelas adalah kelompok dari obyek-obyek yang memiliki sifat umum yang sama. Sebagai misal, sedan, bus, truk termasuk pada kelas mobil. Sedangkan kucing, anjing, dan kambing tergolong pada kelas hewan. Semua obyek pada satu kelas memiliki ciri atau karakteristik umum yang sama. Dalam hal ini obyek-obyek tersebut mempunyai properti yang serupa. Pada Arc View konsep ini dapat dilihat pada banyak hal seperti&lt;br /&gt;- Kelas View memiliki obyek-obyek View1, View2, View3, dan seterusnya&lt;br /&gt;- Kelas Layout memiliki obyek-obyek Layout1, Layout2, Layout3, dan seterusnya&lt;br /&gt;Walaupun obyek-obyek tergolong pada suatu kelas, tetapi belum tentu setiap kelas memiliki obyek. Terdapat dua tipe kelas yang umum yaitu kelas abstrak dan kelas nyata. Kelas abstrak adalah kelas yang tidak memiliki obyek sedangkan kelas nyata adalah kelas yang memiliki obyek. Kelas abstrak tidak memiliki obyek secara langsung, tetapi kelas ini memiliki kelas-kelas turunan yang memiliki obyek. Kelas DOC adalah kelas abstak. Kelas tersebut tidak memiliki obyek yang nyata. Kelas turunan daru DOC tersebut diantaranya adalah View dan Table. Kelas View dan kelas Table adalah kelas nyata karena kelas tersebut dapat memiliki obyek yaitu view1, view2, table1, table2, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.2.1. Pola Obyek dalam kelas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pola obyek dalam kelas digambarkan dalam sebuah diagram hierarki. Diagram hierarki ini menunjukkan pola hubungan antar kelas. Dengan memperhatikan diagram ini akan secara mudah dipahami alur yang harus ditempuh untuk mengakses sebuah obyek dalam suatu kelas. Diagram hierarki ini dapat diibaratkan sebagai denah untuk menuju ke suatu alamat tertentu.Diagram akan menunjukkan jalan dan pos-pos yang harus dilewati.&lt;br /&gt;Pola hierarki diuraikan menjadi tiga yaitu - Inheritance (macam), Aggregation (unsur pembentuk), Association (keterkaitan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Inheritance (macam)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Inheritance merupakan hubungan yang menyatakan bahwa "sub klas tersebut adalah macam dari superklas" . Inheritance digambarkan dengan simbol segi tiga pada diagram hierarki.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Macam dari mobil adalah sedan, bus, dan truk. Mobil adalah superklas, sedangkan ketiga jenis kendaraan tersebut dinamakan dengan subklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; - Aggregation (unsur pembentuk)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Aggregation menyatakan hubungan "terbentuk atas ... ". Sebuah mobil terbentuk atas roda, kursi, bodi, mesin, dan lain-lain. Hubungan aggregation ini disimbolkan dengan bentuk berlian pada diagram hierarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Association (keterkaitan)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Association menyatakan hubungan secara fisik ataupun konseptual.&lt;br /&gt;Misal    :&lt;br /&gt;- Mobil berjalan dengan bensin&lt;br /&gt;- Mobil dikendarai oleh manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan dimuka bahwa diagram hierarki menggambarkan langkah-langkah atau "rute" yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah obyek tertentu. Contohnya dalam sebuah kasus adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Untuk memindah saluran siaran radio di dalam mobil, maka seseorang terlebih dahulu harus menghampiri mobil tersebut, menuju posisi radio, dan kemudian mengubah tuner radio tersebut.&lt;br /&gt;Rute tersebut adalah rute yang harus ditempuh, dan tidak dapat dilakukan dengan membentuk rute baru lainnya. Untuk melakukan pengolahan terhadap theme, seseorang harus masuk dalam project, berjalan ke kelas Doc, masuk kelas View dan baru mendapatkan obyek theme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.3. Request&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Request adalah pesan yang diberikan oleh obyek kepada obyek lain. Request ini berisi perintah-perintah tertentu yang mengakibatkan sebuah atau beberapa buah obyek memberikan reaksi sesuai dengan isi perintah tersebut. Dengan request ini sebuah obyek tombol (button) akan berfungsi dan memberikan hasil jika ditekan. Dengan request ini sebuah menu memiliki arti sesuai dengan label menu tersebut.&lt;br /&gt;Request adalah alat komunikasi antar obyek dengan obyek lainnya jika salah satu obyek dikenai aksi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.3.1. Tipe Request&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Terdapat dua bentuk request yaitu Instance Request dan Class Request&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Instance Request&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Request ini berperan melakukan proses modifikasi terhadap obyek-obyek yang sudah ada. Misalnya pengubahan status hide menjadi show sebuah theme pada view.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; - Class Request&lt;br /&gt;Request ini berperan membentuk sebuah obyek yang baru. Request ini juga berfungsi untuk mendapatkan informasi tertentu yang berkaitan dengan sebuah obyek yang memberikan dampak perubahan tertentu pada obyek tersebut.&lt;br /&gt;Misal : aksi penambahan atau pengurangan theme pada view.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kelas memiliki request masing-masing yang berbeda. Sebuah kelas tertentu memiliki request yang mungkin tidak dimiliki oleh kelas yang lainnya. Kelas tidak dapat melaksanakan pesan dari request milik kelas yang lain. Sebagai contoh adalah kelas view memiliki request zoom sedangkan kelas table tidak memiliki request tersebut.Dengan demikian kelas table tidak dapat menjalankan request zoom, karena request tersebut adalah milik kelas view.&lt;br /&gt;Suatu saat terdapat request-request yang terdapat di beberapa kelas. Request ini membuahkan hasil yang sama. Misal request Make, terdapat pada banyak kelas. Kelas View memiliki request Make yang fungsinya untuk membentuk obyek view yang baru. Kelas Table juga memiliki request Make yang fungsinya membentuk obyek tabel yang baru pula. Hal ini terdapat pula pada kelas-kelas lain seperti chart, layout dan lainnya.&lt;br /&gt;Kesamaan request ini disebut dengan istilah Polymorphisme. Request tersebut dimiliki dan dapat dijalankan oleh banyak kelas, tetapi menghasilkan obyek-obyek yang sejenis dengan kelas asal request tersebut. Request make dari kelas View menghasilkan obyek view, request make dari kelas table menghasilkan obyek table, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Penamaan request secara umum diawali dengan kata kerja yang mengindikasikan aksi yang dimunculkannya, dan diikuti oleh nama obyek yang menerima aksi tersebut.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;            - GetProject&lt;br /&gt;            - FindScript&lt;br /&gt;            - AddDoc&lt;br /&gt;            - SetValue&lt;br /&gt;Get, Find, Add, dan Set adalah aksi yang akan dilakukan oleh request. Project, Script, Doc, dan Value adalah obyek atau kelas yang menerima aksi tersebut.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-4811953790026691165?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/4811953790026691165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/4811953790026691165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/pemrogramman-gis-berbasis-avenue.html' title='PEMROGRAMMAN GIS BERBASIS AVENUE ARCVIEW GIS 1'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-2663382911128060245</id><published>2008-07-27T21:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T21:40:18.173-07:00</updated><title type='text'>APA ITU DATA SPASIAL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data spasial merupakan dasar operasional pada system informasi geografis. Hal ini terutama dalam system informasi geografis yang berbasiskan pada system digital computer. Namun demikian pemikiran tentang pemanfaatan data spasial ini sebenarnya tidak hanya dilakukan pada operasional system informasi geografis digital yang berlaku pada saat ini. Ptolomeus mencoba melakukan pemetaan pada awal abad ke dua. Perkembangan yang cepat dalam teknologi digital computer saat ini memacu perkembangan pemanfaatan data spasial dalam bentuk digital. Kemudahan akses, manipulasi, dan duplikasi data hingga analisis terhadap data spasial menjadi sangat mudah dengan bantuan teknologi digital ini.&lt;br /&gt;Data spasial memberikan amatan terhadap berbagai fenomena yang ada pada suatu obyek spasial. Secara sederhana data spasial dinyatakan sebagai informasi alamat. Dalam bentuk lain data spasial ini dinyatakan dalam bentuk grid koordinat seperti dalam sajian peta ataupun dalam bentuk piksel seperti dalam bentuk citra satelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perolehan data spasial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data spasial diperlukan pada saat-saat harus merepresentasikan atau menganalisis berbagai informasi yang berkaitan dengan dunia nyata. Pengambilan data dari dunia nyata tersebut sebanyak mungkin dapat menjelaskan tentang variasi fenomena serta lokasi fenomena tersebut berada. Dunia nyata yang begitu luas pada kenyataannya tidak mungkin diambil secara utuh menjadi sebuah data spasial. Dengan demikian data spasial adalah sebuah gambaran sederhana dari dunia nyata yang sebenarnya. Dalam system informasi geografis data spasial tersebut dapat menggambarkan sebaran dan lokasi fenomena.&lt;br /&gt;Proses perolehan data spasial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling dikenal adalah dengan cara digitasi. Proses digitasi akan mengubah obyek titik, garis, atau poligon analog pada sebuah hard copy menjadi bentuk data vektor digital.&lt;br /&gt;Pada awal perkembangan system informasi geografis, proses digitasi banyak dilakukan dengan menggunakan meja digitasi atau sering pula dikenal dengan tablet digitasi. Peta analog yang akan didigitasi diletakkan pada meja digitasi. Tanda silang pada pointer meja digitasi digunakan untuk memandu mengarahkan digitasi. Koordinat posisi pointer meja digitasi tersebut tercatat dan ditransfer ke dalam komputer, untuk selanjutnya diolah menggunakan perangkat lunak sistem informasi geografis seperti Arc Info. Sumber data analog yang didigitasi dapat berupa peta ataupun foto udara. Dalam proses digitasi menggunakan meja digitasi ini, ketepatan atau akurasi sangat ditentukan oleh ketelitian operator dalam melakukan digitasi. Tingkat kesulitan yang diperoleh dengan menggunakan cara ini relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan proses digitasi menggunakan metode on-screen.&lt;br /&gt;Proses digitasi on-screen adalah digitasi yang dilakukan pada layar monitor komputer dengan memanfaatkan berbagai perangkat lunak sistem informasi geografis seperti Arc View, Map Info, AutoCad Map, dan lain-lain. Data sumber yang akan didigitasi dalam metode ini tidak dalam bentuk peta analog atau hardcopy. Data sumber tersebut terlebih dahulu disiam (scan) dengan perangkat scanner. Penyiaman ini akan membentuk sebuah data yang mirip dengan hardcopy yang disiam, dalam bentuk data raster dengan format file seperti .jpg, .bmp, .tiff, .gif, dan lain-lain. Data tersebut berujud file gambar raster yang dapat dilihat dengan menggunakan berbagai perangkat lunak pengolah gambar. Pada perangkat lunak sistem informasi geografis, data raster tersebut ditampilkan di layar monitor sebagai layer raster.  Data raster dijadikan latar belakang (backdrop) dalam proses digitasi. Digitasi dilakukan dengan cara membentuk serangkaian titik atau garis menggunakan pointer yang dikendalikan melalui mouse, pada layar komputer di sepanjang obyek digitasi. Setiap obyek spasial dapat direkam sebagai layer-layer yang berbeda. Misal, dari sebuah data raster peta administrasi terdapat fenomena jalan, sungai, dan batas administrasi. Ketiga fenomena tersebut dalam proses digitasi sebaiknya dipisahkan menjadi layer-layer jalan, sungai, dan administrasi, sehingga masing-masing fenomena dapat dipisahkan sebagai file yang berdiri sendiri.&lt;br /&gt;Perolehan data spasial lain yang bersifat pengukuran terestrial sering dilakukan dengan menggunakan theodolith. Pengukuran dengan menggunakan theodolith ini dapat menghasilkan serangkaian data spasial berupa jarak, sudut, ketinggian relatif serta posisi relatif dari sebuah obyek dengan obyek lainnya. Pemetaan kontur untuk penggunaan tertentu seperti perencanaan jalan, pembangunan dam, gedung, dan lain-lain sangat memerlukan metode pengukuran ini. Alat theodolith ini memanfaatkan perangkat optis untuk pengambilan data. Dalam theodolith digital yang saat ini banyak digunakan, posisi azimut dapat diketahui pada perangkat digital yang terpasang.&lt;br /&gt;Hal yang sama dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat GPS (global position system).  Perangkat GPS yang digunakan dalam pengambilan data sebenarnya adalah perangkat penangkap sinyal (receiver) dari beberapa satelit GPS yang mengorbit di atas lokasi survey. Panduan dari sinyal satelit GPS memberikan informasi lokasi receiver GPS tersebut. Berbagai permasalahan sering muncul dengan perangkat bantu GPS ini seperti masalah akurasi pengukuran. Keraguan sering muncul atas data yang didapatkan pada receiver GPS. Hal ini berkaitan dengan jenis receiver GPS yang digunakan untuk pengukuran, kondisi atmosferik, kondisi keterbukaan lokasi pengukuran, topografi, dan lain-lain. Dalam kondisi tertentu nilai kesalahan yang ada dapat ditolerir. Nilai kesalahan yang sering muncul ini sering dapat diminimalisir dengan memaksimalkan pemilihan waktu pengambilan data yang tepat seperti dengan memperhatikan kondisi cuaca atau atmosfer, penggunaan jenis receiver GPS yang baik dan lain-lain.&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan teknologi penginderaan jauh, data spasial dapat diperoleh melalui foto udara digital, citra satelit ataupun radar. Data spasial yang dihasilkan dari metode ini berupa data raster. Informasi spasial berupa nilai piksel. Pada citra satelit nilai piksel adalah gambaran nilai pantulan obyek di muka bumi yang diterima sensor satelit. Setiap satelit memiliki variasi pemisahan panjang gelombang tangkapan pantulan spektral (bandwidth). Demikian pula dalam kaitannya dengan resolusi spasialnya atau luasan wilayah yang terrekam dalam satu piksel. Sebuah piksel pada citra satelit menggambarkan nilai dominan pantulan obyek pada suatu luasan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Obyek Spasial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Obyek spasial terdiri dari tiga jenis pokok yaitu bentuk titik, garis, dan area. Masing-masing dari obyek spasial ini memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik ini menentukan pemilihan bentuk simbol yang digunakan dalam penggambaran data spasial tersebut. Suatu fenomena seperti kota dalam sebuah pulau sering digunakan simbol titik. Obyek jalan tidak pernah disimbolkan dengan bentuk titik karena karakteristik jalan yang selalu membentuk garis. Untuk data spasial yang memerlukan perhitungan luas seperti data data administrasi, sering digambarkan dengan meggunakan bentuk poligon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Model data spasial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Secara garis besar model data spasial ada dua jenis yaitu data vektor dan data raster.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Analisis Spasial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada saat sistem informasi geografis dimanfaatkan oleh operator, ada sesuatu yang diharapkan darinya. Salah satu hal yang diperoleh dari sistem informasi geografis adalah kemampuannya dalam menganalisis data spasial. Model analisis data spasial ini sering disebut sebagai analisis spasial. Namun kadang operator sistem informasi geografis tidak memahami apakah dia sudah melaksanakan suatu analisis spasial ataukah baru sekedar menjalankan suatu prosedur yang ada dalam sebuah perangkat lunak sistem informasi geografis. Mungkin pula sebaliknya, operator mungkin baru sekedar membuat data digitasi hingga layout peta, namun merasa sudah melakukan analisis spasial dengan menggunakan Sistem informasi geografis.&lt;br /&gt;Sistem informasi geografis itu sendiri sering disamakan dengan perangkat lunak sistem informasi geografis yang sebenarnya adalah sekedar alat bantu. Tidak semua perangkat lunak menyediakan metode analisis spasial seperti yang dimaksudkan dalam sistem informasi geografis. Namun tidak bisa disalahkan jika pengguna sistem informasi geografis merujuk pada berbagai kemampuan perangkat lunak seperti Arc View dan lain-lainnya, untuk menjelaskan suatu pengertian tentang analisis spasial. Hal ini dikarenakan perangkat lunak tersebut dalam pembuatannya sengaja ditujukan salah satunya untuk analisis spasial.&lt;br /&gt;Kemudian, apakah yang dimaksud dengan analisis spasial, dan apa sajakah bentuk analisis spasial tersebut ? Jawaban dari hal ini memang beragam. De Mers (1997) menyebutkan bahwa analisis spasial mengarah pada banyak macam operasi dan konsep termasuk perhitungan sederhana, klasifikasi, penataan, tumpangsusun geometris, dan pemodelan kartografis. Sementara Johnston (1994) secara sederhana mengatakan bahwa analisis spasial merupakan prosedur kuantitatif yang dilakukan pada analisis lokasi. Fotheringham (2005) memilah spasial analisis dalam dua bentuk yaitu analsis spasial berbasis sistem informasi geografis sederhana (Simple GIS-based spatial analysis) dan analsis spasial berbasis sistem informasi geografis lanjut (Advanced GIS-based spatial analysis). &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-2663382911128060245?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/2663382911128060245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/2663382911128060245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/apa-itu-data-spasial.html' title='APA ITU DATA SPASIAL'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-3524878759141616977</id><published>2008-07-27T20:59:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T21:07:03.722-07:00</updated><title type='text'>PENGGAMBARAN DUNIA NYATA DALAM SIG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Kompleksitas Dunia Nyata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dunia nyata (real world) adalah segala sesuatu yang terdapat di alam. Dunia nyata memiliki kompleksitas baik dari ukuran, jenis, dan waktu peristiwa. Kenyataan di lapangan berasal dari segala sesuatu yang berukuran atomik hingga masalah benua atau yang lebih luas lagi, dari peristiwa yang terjadi ribuan tahun yang lalu hingga detik ini, dari masalah perubahan bentuk molekular hingga interaksi sosial. Kompleksitas ini mengakibatkan sulitnya manusia menggambarkan dunia nyata tersebut.&lt;br /&gt;Penggambaran dunia nyata yang dilakukan merupakan sebuah peristiwa penyederhanaan, klasifikasi, dan simbolisasi sesuai dengan interpretasi masing-masing individu tersebut. Seluruh fenomena dunia nyata ini tidaklah mungkin sekaligus digambarkan secara lengkap, detil, dan sempurna. Penggambaran yang dilakukan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan masing-masing individu atas dunia nyata sebagai lingkungannya.&lt;br /&gt;Kompleksitas dunia nyata ini merupakan sesuatu kenyataan yang dimaklumi. Namun disisi lain manusia tetap memerlukan penggambaran dan pendekatan-pendekatan terhadap dunia nyata ini sejalan dengan kebutuhannya. Manusia berusaha mengenali lingkungannya dari masalah yang detil sampai yang lebih besar lagi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu atau kelompoknya. Seorang nelayan berusaha mengenali sifat-sifat angin agar dirinya selamat dalam pelayarannya. Petani mengenali sifat-sifat tanah agar mendapatkan hasil panen yang baik. Tentara mengenali bentuk lahan dengan harapan mendapatkan posisi dan lokasi yang strategis dalam bertempur sehingga memenangkan pertempuran tersebut.&lt;br /&gt;SIG sebagai sebuah sistem informasi melakukan penyederhanaan terhadap fenomena dunia nyata ini. SIG dengan penyederhanaannya ini melakukan pendekatan terutama secara spasial dan non spasial. Analisis spasial dalam SIG berusaha menerangkan fenomena dunia nyata melalui model dunia nyata (real world model). Model dunia nyata ditujukan untuk mengurangi kompleksitas dengan mengambil fenomena-fenomena tertentu saja yang sejalan dengan tujuan. Model dunia nyata selanjutnya diterangkan melalui model data. Proses interpretasi fenomena alami dengan menggunakan model dunia nyata dan model data disebut dengan pemodelan data (Bernhardsen, 1992).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Model Dunia Nyata&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Model dunia nyata menerangkan kenyataan yang ada pada dunia nyata. Pembawa informasi dari model dunia nyata ini adalah entitas. Entitas terdiri dari : Klasifikasi Jenis (type classification), atribut (attribute), hubungan (relationship).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.1. Jenis Entitas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Jenis entitas didasarkan atas asumsi bahwa fenomena yang seragam dapat digolongkan ke dalam klasifikasi yang sama. Klasifikasi jenis harus memiliki nama yang unik. Misal, dilapangan terdapat beberapa jalan dengan berbagai ukuran dan kepadatan. Jalan tersebut diidentifikasi sebagai jalan negara, jalan propinsi, jalan kabupaten, dan jalan desa. Proses identifikasi tingkatan jalan tersebut sebenarnya memasukkan jalan ke dalam kelompok unik tertentu, yang mana jalan tersebut masuk dalam kelompok besar yang disebut jalan. Contoh lain, terdapat beberapa bangunan di lapangan. Bangunan-bangunan tersebut masuk dalam golongan besar yang disebut kelompok Bangunan. Bangunan-bangunan tersebut kemudian diidentifikasi sebagai rumah mukim, perkantoran, pabrik, dan lain-lain. Proses identifikasi bangunan tersebut merupakan proses memasukkan obyek bangunan kedalam kelompok-kelompok yang lebih spesifik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.2. Atribut Entitas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Atribut entitas merupakan data yang menerangkan sebuah jenis entitas. Sebuah jenis entitas memungkinkan memiliki lebih dari satu data atribut. Misal, sebuah jalan memiliki data atribut nama, lebar, kelas jalan, kepadatan, dan lain-lain. Data-data tersebut merupakan fakta lapangan yang diambil untuk menerangkan secara spesifik sebuah entitas.&lt;br /&gt;Atribut entitas digolongkan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif menjelaskan entitas secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif dikelompokkan menjadi tiga tingkat ketepatannya (accuracy). Tingkatan paling tepat disebut proporsional seperti pengukuran jarak dan luas area, interval yang menggolongkan data pada kelompok-kelompok tertentu seperti umur, pendapatan dan lain-lain, Ordinal yang menggolongkan data pada tingkatan-tingkatan seperti buruk-sedang-baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.3. Hubungan Entitas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sebuah entitas memiliki hubungan atau keterkaitan dengan entitas-entitas yang lain. Untuk menjelaskan sebuah entitas tertentu perlu dijelaskan kaitannya entitas tersebut dengan entitas-entitas disekitarnya, misalnya posisi relatifnya, bagian dari kelompok mana, terdiri dari unsur apa saja, berdampingan dengan apa saja, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.Model Data&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Model data merupakan penterjemahan dari model dunia nyata. Informasi dunia nyata yang disimpan pada basisdata tidak dapat dihubungkan secara langsung pada model dunia nyata. Model dunia nyata yang masih bersifat umum ini harus terlebih dahulu diturunkan menjadi sebuah model data.&lt;br /&gt;Model data memungkinkan dirancang untuk mencakup hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1. Obyek fisik seperti jalan, sungai, bangunan, dll.&lt;br /&gt;2. Obyek terklasifikasi seperti jenis vegetasi, zona iklim, dll.&lt;br /&gt;3. Kejadian atau peristiwa seperti banjir, longsor, badai, dll.&lt;br /&gt;4. Obyek yang memiliki perubahan berkelanjutan seperti batas temperatur&lt;br /&gt;5. Obyek buatan seperti kepadatan penduduk, garis kontur.&lt;br /&gt;6. Obyek buatan untuk sebuah basis data atau obyek terpilih.&lt;br /&gt;Sebuah model data dapat memiliki banyak obyek. Masing-masing obyek inilah yang selanjutnya terhubung dengan informasi dalam kemasan basisdata. Informasi model data dapat diperoleh dari obyek-obyek tersebut. Dengan kata lain, obyek merupakan pembawa informasi model data.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Obyek&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Seperti diungkapkan dimuka bahwa obyek adalah pembawa informasi bagi sebuah model data. Obyek dicirikan oleh tipe, atribut, hubungan, geometri, dan kualitas. Masing-masing obyek memiliki identitas yang tidak ada kesamaannya dengan obyek lain (unique). Masing-masing obyek dapat dibedakan dengan obyek lainnya melalui identitas tersebut, sehingga tidak akan terdapat dua atau lebih obyek dengan identitas yang sama. Dalam penggambarannya secara grafis, obyek disimbolkan ke dalam bentuk titik, garis dan area. Urutan-urutan dari pemodelan data tersebut secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Simbol Obyek&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Obyek dalam peta disimbolkan dengan titik, garis, dan area. Masing-masing simbol tersebut memiliki fungsi aplikatif pada obyek tertentu yang dipengaruhi oleh skala peta. Sebuah obyek kota dapat digambarkan dengan area ataupun dengan titik. Sebagai gambaran dapat diuraikan sebagai berikut. Sebuah gedung jika dilihat dari dekat nampak memiliki ukuran-ukuran geometri panjang, lebar dan tinggi.&lt;br /&gt;Jika gedung tersebut dilihat dari jauh, ukuran geometri tersebut nampak menjadi semakin kecil dan hingga akhirnya akan tidak nampak. Contoh tersebut menggambarkan ukuran obyek dalam berbagai skala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;E.1. Titik&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Titik adalah simbol tanpa dimensi. Simbol ini digunakan untuk menggambarkan obyek yang tidak memiliki kenampakan unsur ukuran geometris pada peta, misal puncak gunung, gedung, rumah, tempat kejadian peristiwa, dan lain-lain. Titik memberikan informasi lokasi dengan posisi koordinatnya. Dalam skala yang lebih besar, mungkin saja obyek yang digambarkan dengan simbol titik tadi diubah kedalam bentuk area.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;E.2. Garis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Garis adalah simbol satu dimensional yang memiliki satuan panjang. Sebuah titik terdiri dari minimal dua titik (start node dan end node).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;E.3. Area/poligon&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Area sering pula disebut dengan poligon. Area merupakan simbol dua dimensional. Area memberikan informasi mengenai unsur wilayah. Area dibatasi oleh minimal tiga garis batas yang masing-masing memiliki titik awal dan titik akhir.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-3524878759141616977?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3524878759141616977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3524878759141616977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/penggambaran-dunia-nyata-dalam-sig.html' title='PENGGAMBARAN DUNIA NYATA DALAM SIG'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-1580002814122655865</id><published>2008-07-27T20:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T20:47:00.923-07:00</updated><title type='text'>SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejak manusia mengenal lingkungannya dia dihadapkan pada berbagai tantangan kehidupan baik yang berupa tuntutan fisik ataupun non fisik. Sesuai dengan sifatnya, manusia harus berinteraksi dan membutuhkan berbagai bantuan orang lain secara langsung ataupun tidak langsung. Kebutuhan berinteraksi ini mendorong manusia tersebut untuk berpindah ke tempat-tempat tertentu sesuai dengan kebutuhan tersebut jika kebutuhannya tidak dapat dipenuhi ditempat dia berada. Perpindahan ini dapat terus berlangsung secara sirkuler berbolak-balik dari tempat asal ke tempat tujuan ataupun bersifat nomaden dimana dia tinggal menetap di tempat tujuannya. Perpindahan yang terjadi terus menerus ini menimbulkan berbagai pengalaman seperti jalur-jalur dimana dia pergi, lokasi relatif suatu tempat dengan tempat lain, berbagai hal yang terdapat di suatu tempat, berbagai kejadian yang pernah terjadi dan lain-lain. Pengalaman ini suatu saat mungkin akan diceritakan pada orang lain sebagai suatu pelajaran. Pengalaman yang diceritakan pada orang lain tersebut merupakan sebuah rangkaian informasi yang dikemas dalam bentuk cerita. Orang yang mendengarkan cerita tersebut adalah penerima informasi yang selanjutnya mungkin akan menganalisa secara mental tentang dimana lokasi peristiwa yang diceritakan, seberapa jauh lokasi peristiwa tersebut dari posisi dia berada saat ini, bagaimana peristiwa tersebut terjadi, berapa pihak yang terlibat dan lain-lain.&lt;br /&gt;Secara sederhana sebenarnya dapat dikatakan bahwa si penerima informasi di atas melakukan analisis secara spasial ataupun non spasial. Penerima informasi tersebut dalam benaknya membayangkan tentang unsur spasial yaitu dimana, dan seberapa jauh. Analisis spasial tersebut memberikan gambaran lokasi sebuah fenomena. Disamping hal tersebut, penerima informasi tersebut juga membayangkan unsur non spasial yang berupa bagaimana dan siapa. Kedua hal terakhir ini memberikan gambaran kualitas dan kuantitas fenomena tersebut. Paduan unsur spasial dan non spasial tersebut pada akhirnya membentuk serangkaian informasi utuh dalam benak si penerima tadi mengenai fenomena yang di sampaikan orang lain.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya saat ini, informasi yang bersifat spasial tersebut menjadi dasar bagi analisa geografi modern. Penyampaian informasi dikemas dalam sebuah sistem informasi spasial yaitu sistem informasi geografis (Geographic Information System). Kerumitan fakta fenomena geografis teramat sulit untuk digambarkan secara deskriptif belaka terutama dalam kaitannya dengan perkiraan fenomena-fenomena yang akan terjadi sebagai akibat dari fenomena tersebut di masa sekarang. Pendekatan yang komprehensif dilakukan dengan penggambaran spasial menjadi sebuah peta baik manual maupun digital. SIG menggabungkan analisis spasial dengan penjabaran deskriptif sehingga dalam perkembangannya SIG banyak digunakan sebagai alat ataupun cara pandang dalam penyelesaian permasalahan di berbagai bidang. Informasi yang dihasilkan dalam SIG memberikan gambaran yang komprehensif, menyeluruh, sekaligus memberikan kemudahan dalam pendekatan terhadap fenomena. SIG menggunakan peta digital dan data atribut sebagai dasar berbagai analisisnya.&lt;br /&gt;Pada masa terdahulu informasi spasial digambarkan dalam bentuk peta. Obyek-obyek di muka bumi digambarkan dalam bentuk titik, garis, dan area serta warna. Gradasi warna, ukuran titik, dan ketebalan garis menggambarkan kualitas fenomena atau obyek tersebut. Misal garis tebal menggambarkan jalan kelas I, garis dengan ketebalan lebih tipis menggambarkan jalas kelas II, dan garis yang lebih tipis lagi menggambarkan jalan kelas III dan seterusnya. Teknik pemetaan ini berkembang dalam ranah ilmu kartografi. Proses pemetaan dalam kartografi terbantu dengan munculnya teknik digital yang diaplikasikan dalam hal pemetaan ini yaitu Computer Assisted Cartography (CAC). Teknologi digital ini sangat membantu proses pembuatan dan penampilan peta. CAC memiliki kemampuan yang baik dalam proses pembuatan, pengolahan hingga pencetakan akhir sebuah peta. SIG dikatakan sebagai hasil perkawinan CAC dengan teknologi basis data (Bernhardsen, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan CAC, terdapat teknik digital lain yang hampir mirip dengannya yaitu Computer Assisted Drafting (CAD). Sebenarnya CAD ini ditujukan sebagai alat bantu penggambaran teknik arsitektural. Dalam perkembangannya CAD banyak pula digunakan sebagai alat untuk menggambarkan berbagai peta seperti peta persil ataupun peta administrasi yang banyak ditemui diberbagai instansi di Indonesia. Namun demikian CAD tidak memiliki kemampuan analisis geografis seperti yang dimiliki oleh banyak software SIG (DeMers, 1997).&lt;br /&gt;Banyak kemiripan di dalam ketiga teknologi tersebut, terutama berkaitan dengan hal perpetaan, tetapi terdapat perbedaan yang pada akhirnya perbedaan tersebut menjadikan ciri atau karakteristik yang membedakannya dengan SIG. Lalu apakah Sistem Informasi Geografis (SIG) itu ? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Sistem Informasi Geografis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hingga saat ini terdapat banyak definisi mengenai Sistem Informasi Geografis tersebut. Tidak ada satu kata yang pasti mengenai SIG ini. Banyak pendapat yang mencoba mendekati dan menjawab apakah sistem informasi geografis itu? Berikut dicontohkan beberapa definisi mengenai SIG.&lt;br /&gt;Rind (1988) mencoba mendefinisikan SIG dengan istilah :&lt;br /&gt;“a computer system for collecting, checking, integrating and analyzing information related to the surface of the earth”&lt;br /&gt;(Sistem komputer yang ditujukan untuk pengumpulan, pemeriksaan, pemaduan dan analisis informasi yang berkaitan dengan permukaan bumi) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bernhardsen (1992) mendefinisikan SIG sebagai berikut :&lt;br /&gt;“information on the qualities of and the relationships between objects which are uniquely georeferenced”&lt;br /&gt;(informasi atas nilai kualitas dan hubungan antar obyek yang memiliki georeferensi unik) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;DeMers (1997) menggunakan definisi SIG sebagai berikut :&lt;br /&gt;“a series of subsystems within a larger system”&lt;br /&gt;(serangkaian subsistem dalam sebuah sistem yang lebih besar) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Definisi-definisi di atas merupakan sedikit contoh dari beragamnya pengertian dari sistem informasi geografis pada saat ini. Tidak terdapat satu kata sepakat yang menjelaskan secara ringkas tentang sistem informasi geografis. Perbedaan disebabkan oleh latar belakang yang berbeda-beda dari pengguna teknologi ini. Seorang ahli hutan akan mendefinisikan berbeda dari seorang ahli geologi terhadap SIG. Demikian pula ahli hidrologi memberikan definisi yang berbeda dengan seorang ahli tata kota. Di samping perbedaan latar belakang tersebut, arah atau hasil akhir yang diharapkan oleh masing-masing pengguna juga menyebabkan perbedaan definisi yang diberikan pengguna tersebut pada SIG. Pengguna akan memberikan definisi yang “paling tepat” untuk diterjemahkan menjadi langkah aplikasinya.&lt;br /&gt;ESCAP (1998) menemukan permasalahan - permasalahan yang menyebabkan sulitnya pembentukan definisi standar mengenai SIG antara lain:&lt;br /&gt;1. Tidak adanya pengertian umum atau kesepakatan atas model data spasial.&lt;br /&gt;Pengertian tentang model data spasial dari satu produsen perangkat SIG dengan produsen lain sangat bervariasi secara nyata.&lt;br /&gt;2. Tidak adanya perangkat SIG saat ini yang secara pasti dapat diarahkan pada seluruh kasus.&lt;br /&gt;Bervariasinya fenomena alami dan variasi multidisipliner pengguna SIG menyebabkan perbedaan pandangan mengenai data spasial dan operasionalisasi SIG.&lt;br /&gt;3. Adanya pemahaman bahwa definisi standar berada pada lahan aplikasinya.&lt;br /&gt;Basisdata pada suatu wilayah pada umumnya telah terklasifikasi dan teridentifikasi sendiri-sendiri. Klasifikasi dan identifikasi terhadap suatu obyek yang sama berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, satu negara dengan negara lainnya. Sebagai contoh : kelas-kelas tanah berbeda antara satu negara dengan negara lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya memang pengguna sistem informasi geografis “tidak membutuhkan” definisi tentang SIG. Beragamnya definisi bukan berarti tidak ada kesatuan mengenai SIG. Dari seluruh definisi tersebut menjabarkan subsistem atau fungsi yang sama dalam sebuah tubuh SIG. Subsistem yang terdapat pada tubuh SIG tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Subsistem input data&lt;br /&gt;Subsistem ini adalah sebuah proses perolehan data baik data spasial ataupun data tabular dan deskriptif ke dalam SIG. Peroleh data berupa perekaman, penyiaman, duplikasi, konversi, dan digitasi data.&lt;br /&gt;2. Subsistem penyimpanan dan pengelolaan data&lt;br /&gt;Subsistem penyimpanan dan pengolahan merupakan rangkaian proses menyimpan, menata, menyusun dan mengorganisasi data baik spasial, tabular dan deskriptif hasil dari proses perolehan data pada suatu tipe data tertentu menggunakan tata aturan tertentu. Subsistem ini menggunakan metode yang memungkinan kemudahan dalam proses pencarian dan pengubahan data tersebut.&lt;br /&gt;3. Subsistem manipulasi dan analisis data spasial&lt;br /&gt;Subsistem ini merupakan hal yang sangat penting dalam SIG. Kemampuan analisis data spasial merupakan ciri pokok yang harus dimiliki oleh SIG. Subsistem ini yang membedakan dengan sistem informasi lain. Subsistem ini melakukan berbagai proses penggabungan, pemisahan, pengubahan, estimasi, dan pemodelan data spasial.&lt;br /&gt;4. Subsistem hasil dan pelaporan data&lt;br /&gt;Hasil dari subsistem ini berupa laporan dalam bentuk peta-peta, uraian deskriptif, tabel, grafik, dan citra. Subsistem ini harus dapat diolah pada rangkaian kerja berikutnya pada waktu lain. Hasil dari subsistem ini bukan merupakan hasil akhir tetapi dapat sebagai data dasar dalam proses analisis yang lain. Dengan demikian hasil dari subsistem ini akan terus berputar dalam proses SIG selanjutnya. Hal ini yang membedakan SIG dengan CAC. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Empat subsistem tersebut disepakati sebagai isi dari SIG. Dalam hal ini SIG melakukan perolehan, mengorganisasi, menganalisis, dan memberikan laporan atas data spasial (UN). ESCAP (19..) menguraikan bahwa SIG menjelaskan tentang “informasi geografis”. Informasi geografis dalam hal ini berisi empat komponen pokok yaitu:&lt;br /&gt;1. Komponen posisi geografis :&lt;br /&gt;Komponen ini berupa sistem koordinat geografis berbasis pada model matematis yang dapat ditransformasikan pada sistem yang lain. Koordinat geografis menunjukkan lokasi fenomena yang sering digambarkan dengan koordinat kartesius, easting-northing, ataupun latitude-longitude.&lt;br /&gt;2. Komponen spasial :&lt;br /&gt;Komponen spasial ini merupakan suatu hubungan topologis antar komponen dari entitas data spasial seperti hubungan antara titik dengan titik, titik dengan garis, titik dengan area garis dengan garis, garis dengan area, dan area dengan area yang lainnya. Hubungan ini menjelaskan posisi relatif suatu fenomena, kaitan sebab akibat fenomena, arah, keterkaitan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;3. Komponen atribut&lt;br /&gt;Komponen atribut merupakan data deskribtif dari sebuah obyek data spasial. Komponen atribut ini dapat berupa data tabular, data deskriptif (seperti laporan dan sensus), gambar, grafik, bahkan foto atau data video. Atribut memberikan penjelasan mengenai kualitas dan kuantitas fenomena.&lt;br /&gt;4. Komponen waktu&lt;br /&gt;Komponen waktu merupakan informasi fenomena antar waktu dari data spasial tersebut. Fenomena dijelaskan dengan pembandingan fenomena yang sama dalam waktu yang berbeda, dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Komponen ini memberikan penjelasan mengenai berbagai kemungkinan perubahan dan perkembangan kualitas ataupun kuantitas data spasial.&lt;br /&gt;Dengan komponen informasi geografis ini, SIG mampu memberikan gambaran yang komprehensif tentang sebuah fenomena data spasial baik dari sisi lokasi, keterkaitannya dengan fenomena spasial lain, kualitas dan kuantitas fenomena dan perubahannya antar waktu.&lt;br /&gt;Pendekatan ini tentunya sangat baik untuk sebuah analisis kewilayahan saat ini ataupun prediksi-prediksi di masa mendatang.&lt;br /&gt;SIG menggunakan peta sebagai dasar analisis spasial dengan dipadukan berbagai data atribut. Data spasial dan atribut ini dalam bentuk digital. SIG menggunakan data digital berbasis komputer dalam prosesnya, sehingga memungkinkan kemudahan pengolahan dan perubahan dimasa yang akan datang. Pada SIG modern saat ini, banyak tipe data yang dapat diakses dan diolah oleh sistem, disamping data vektor yang banyak digunakan pada SIG. Data raster seperti foto, citra satelit atau bahkan data video dapat diaplikasikan dalam SIG. Kemampuan mengolah tipe data ini memberikan nilai lebih pada SIG dalam penyelesaian permasalahan data spasial. Dengan kemudahan dan kemampuan ini, didapatkan banyak keuntungan dengan aplikasi SIG dalam analisis data spasial. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya pengguna baik perorangan ataupun instansi yang menerapkan SIG sebagai alat ataupun cara pandang penyelesaian kasusnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Kartografi Tradisional dan SIG Modern&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hasil proses kartografi adalah peta yang digambarkan pada kertas. Proses kartografis ditujukan untuk menghasilkan peta . Obyek di lapangan disimbolkan dengan titik, garis dan area. Bentuk dan ukuran titik dan garis memiliki makna tertentu. Demikian pula dalam hal pewarnaan dan bentuk gradasinya yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu tingkatan. Dalam perkembangannya, kartografi yang menggunakan metode analog terbantu dengan munculnya teknologi Computer Assisted Cartography (CAC). CAC yang merupakan perangkat bantu digital yang ditujukan untuk pembuatan peta dengan berbagai aturannya.&lt;br /&gt;Seperti telah diungkapkan dimuka bahwa SIG merupakan perpaduan atau perkawinan antara CAC dengan teknologi basisdata. Pendapat lain mengatakan bahwa SIG merupakan sebuah langkah maju dari kartografi tradisional itu sendiri. Kesamaan umum yang diterima antara kartografi dengan SIG adalah sama-sama menghasilkan peta. SIG menggunakan peta digital sebagai dasar analisis spasial.&lt;br /&gt;Subsistem pertama atau subsistem input pada SIG memiliki kesamaan dengan langkah pertama dan kedua pada proses kartografis yaitu pengumpulan data dan kompilasi peta (Robinson, 1995 pada DeMers 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DeMers (1997) membandingkan antara proses kartografi yang diterapkan pada kartografi tradisional dengan SIG secara umum sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Perbandingan Kartografi tradisional dengan SIG&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Secara spesifik DeMers membandingkan kartografi dengan SIG berdasarkan pada masing-masing subsistem. Dengan menggunakan sudut pandang masing-masing subsistem tersebut diperoleh perbandingan yang lebih tajam antara proses kartografis dengan proses-proses dalam SIG. Perbandingan ini akan lebih memperjelas “posisi” masing-masing, kartografi dan SIG. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Posisi SIG dalam Sistem Informasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer berkembang pula banyak sistem informasi. Masing-masing sistem informasi tersebut memiliki karakteristik yang tertentu yang mencirikan fungsi dan kemampuan sistem informasi tersebut. Sistem informasi yang ada biasanya berbasiskan pada teknologi digital komputer dengan aplikasi bidang tertentu. Dalam masyarakat sistem informasi ini, SIG menjadi salah satu sistem informasi yang banyak digunakan.&lt;br /&gt;Sistem informasi geografis (SIG) memiliki karakteristik pendekatan dan analisis secara spasial. Cara pandang spasial ini yang pada akhirnya memudahkan pengguna sistem informasi melakukan pendekatan, pemahaman dan pengambilan kesimpulan terhadap sebuah permasalahan yang muncul dari sebuah fenomena. Kemampuan SIG dalam pengolahan basisdata non spasial dan menggabungkannya dengan data spasial yang ada meningkatkan kemampuan performa SIG dibandingkan sistem informasi lain yang ada.&lt;br /&gt;SIG merupakan bagian dari sistem informasi spasial. Sistem informasi spasial terbagi menjadi dua bentuk yaitu sistem informasi geografis dan sistem informasi non geografis. Sistem informasi non geografis memiliki obyek-obyek tanpa geokoding. Pada posisi ini Computer Assisted Drafting (CAD) dibangun.&lt;br /&gt;SIG merupakan sistem informasi spasial yang memiliki topologi, geokoding, georeferensi. SIG dipilah menjadi dua kelompok yaitu LIS (Land Information System) dan Non LIS. Non LIS biasa digunakan untuk berbagai analisis yang berhubungan dengan aktifitas sosial, transportasi, ekonomi, dan politik seperti analisis penempatan lokasi pemadam kebakaran, sekolah, pasar, rumah sakit dan lain-lain. LIS berkaitan dengan sistem informasi lahan atau pertanahan. LIS dibagi menjadi dua kelompok yaitu LIS berbasiskan persil dan tidak berbasiskan persil. LIS berbasiskan pada persil dapat disamakan dengan Sistem Informasi Pertanahan yang berbicara mengenai kepemilikan lahan dengan segala atributnya. Sistem informasi ini juga dimanfaatkan untuk berbagai penelitian dan pengkajian kadastral. LIS tidak berbasis persil merupakan sistem informasi yang mengkaji lahan tanpa batas-batas persil seperti analisis sumber daya lahan. Aktifitas yang dapat dimasukkan pada kelompok ini sebagai contoh adalah penelitian ilmiah, perencanaan hutan, analisis longsor dan erosi, analisis bahaya banjir dan lain sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Unsur Terkait SIG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini terdapat banyak pengguna SIG. Perkembangan teknologi digital yang mendorong peningkatan kemampuan SIG semakin meningkatkan peluang bertambahnya pihak-pihak pemakai sistem informasi ini. Banyaknya pemakai SIG tidak terlepas pula dari banyaknya unsur-unsur yang terkait dengan terbentuknya SIG. Unsur-unsur terkait dengan SIG dapat digolongkan dalam berberapa kelompok, yaitu: disiplin ilmu, pemanfaatan, tipe data, dan pengguna akhir dari SIG (Bernhardsen, 1992).&lt;br /&gt;Kompleksitas unsur-unsur terkait ini menyebabkan banyaknya pihak-pihak terkait dengan SIG. Kompleksitas ini menempatkan SIG sebagai sebuah konsep sekaligus alat yang umum digunakan dalam penanganan berbagai macam permasalahan. Disiplin ilmu yang terkait dengan SIG dapat diidentifikasikan sebagai berikut: Ilmu komputer, kartografi, fotogrametri, survei, penginderaan jauh, geografi, hidrografi, statistik, perencanaan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pemanfaatan SIG dapat dilihat pada beberapa hal berikut: operasional dan pemeliharaan jaringan dan fasilitas umum, pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan perumahan, perencanaan pembangunan, perpetaan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Terkait dengan data-data yang digunakan berupa peta digital, citra digital, foto-foto dan peta tersiam, data satelit, data lapangan, data video, data tabular, data deskriptif, sensus, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Terkait dengan pemakai adalah sebagai berikut tenaga teknik hidrologi, perencana, ahli geologi, politisi dan pengambil keputusan, surveyor dan lain-lain &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-1580002814122655865?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/1580002814122655865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/1580002814122655865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/sistem-informasi-geografis.html' title='SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4601530737504482936.post-3346382331919640407</id><published>2008-07-25T00:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T20:05:44.758-07:00</updated><title type='text'>INFO DIKLAT PEMROGRAMMAN GIS</title><content type='html'>Diklat ini merupakan diklat angkatan ke VII yang dilaksanakan oleh &lt;strong&gt;Citra Media Group&lt;/strong&gt; yang beralamat di Karangmalang C 17a, Sleman, Yogyakarta, 55281. Citra Media Group adalah lembaga diklat yang berpengalaman dalam bidang GIS dan pemetaan digital. Memiliki pengalaman dalam memberikan pelatihan di berbagai Bappeda, BPN, Perkebunan dan lain-lain di Indonesia.&lt;br /&gt;DIKLAT Angkatan VII ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008. Bagi yang berminat silakan kontak email ke &lt;a href="mailto:ebcmg74@gmail.com"&gt;ebcmg74@gmail.com&lt;/a&gt; atau kontak person Tri Purwanto 08175481997&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4601530737504482936-3346382331919640407?l=infomygis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3346382331919640407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4601530737504482936/posts/default/3346382331919640407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://infomygis.blogspot.com/2008/07/info-diklat-pemrogramman-gis.html' title='INFO DIKLAT PEMROGRAMMAN GIS'/><author><name>INFOGIS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
